Yunius Suwantoro Tanggapi Sindiran Roy Suryo “Partai Gajah”: Politik Harus Berdiri di Atas Etika dan Gagasan

- Jurnalis

Kamis, 24 Juli 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto Yunius Suwantoro Bendahara NASMAR dan Kader PSI

Foto Yunius Suwantoro Bendahara NASMAR dan Kader PSI

 

“Kalau kita ingin membawa politik ke arah yang lebih baik, mulailah dari cara kita berbicara. Jangan remehkan rakyat dengan sindiran murahan. Politik harus punya etika,”

( Yunius Suwantoro )

 

 

Pernyataan kontroversial yang menyamakan istilah “partai gajah” dengan singkatan “gak punya ijazah” kembali menuai sorotan di ruang publik.

Video yang berisi sindiran tersebut dinilai sebagai bentuk komunikasi politik yang tidak mendidik dan menjauhkan masyarakat dari esensi demokrasi yang sehat.

Di tengah kemajuan zaman, narasi semacam itu dianggap sebagai langkah mundur dalam peradaban politik Indonesia.

Menanggapi hal tersebut, Yunius Suwantoro, kader Partai Solidaritas Indonesia (PSI), angkat bicara. Ia menegaskan bahwa simbol gajah yang kini menjadi semangat baru bagi PSI justru dimaknai sebagai kekuatan, keteguhan, dan loyalitas dalam membela rakyat. Bagi Yunius, merendahkan simbol dengan tuduhan seperti “tidak punya ijazah” adalah bentuk penyempitan makna yang tidak patut dijadikan alat komunikasi politik.

Baca Juga :  Kesenian Burokan Cirebon Mengandung Makna Spiritual Dan Harus Dilestarikan

“Partai Gajah bukan tentang ijazah atau tidak ijazah. Ini adalah simbol semangat kolektif, keberanian moral, dan kekuatan akar rumput. Jangan diputarbalikkan dengan cara yang merendahkan,” ujar Yunius Suwantoro dalam keterangannya.

Yunius menyayangkan bahwa narasi seperti itu justru datang dari tokoh publik yang seharusnya bisa memberi contoh komunikasi politik yang lebih santun dan mencerdaskan. Ia menegaskan bahwa masyarakat saat ini sudah jauh lebih dewasa dalam menilai mana kritik yang konstruktif dan mana yang hanya bersifat menyerang pribadi.

“Rakyat Indonesia sudah bisa membedakan mana kritik kebijakan, dan mana sindiran pribadi yang tidak produktif. Politik tidak boleh menjadi ruang untuk melecehkan martabat orang lain,” lanjut Yunius.

Lebih jauh, Yunius menekankan bahwa kepemimpinan bukan sekadar soal ijazah. Sejarah bangsa telah menunjukkan bahwa banyak pemimpin besar lahir dari ketekunan, kerja nyata, dan kepercayaan rakyat.

Presiden Joko Widodo, menurut Yunius, adalah contoh nyata pemimpin yang berhasil membawa perubahan besar meskipun sering direndahkan dengan isu-isu pribadi yang tak relevan.

Baca Juga :  BSKDN Kemendagri Memberikan Penghargaan Satyalancana Karya Satya Kepada Pegawai Berprestasi

“Kerja nyata tidak ditentukan dari selembar ijazah. Pemimpin dinilai dari bagaimana ia menghadirkan solusi, membangun jembatan untuk rakyat, dan menegakkan keadilan. Itu yang telah ditunjukkan oleh Presiden Jokowi,” kata Yunius.

 

Ia mengajak semua pihak untuk menghentikan praktik politik yang menjatuhkan lawan dengan cara-cara personal. Menurutnya, Indonesia ke depan membutuhkan ruang diskusi politik yang sehat, beradab, dan fokus pada gagasan, bukan pada hinaan.

“Kalau kita ingin membawa politik ke arah yang lebih baik, mulailah dari cara kita berbicara. Jangan remehkan rakyat dengan sindiran murahan. Politik harus punya etika,” tegas Yunius Suwantoro.

Yunius menutup pernyataannya dengan ajakan kepada masyarakat, khususnya generasi muda, untuk tidak terjebak pada narasi-narasi yang memecah belah. Ia mengajak semua pihak untuk membangun politik yang menjunjung martabat, menyatukan semangat, dan merayakan perbedaan dalam bingkai saling menghormati.

Berita Terkait

Pernyataan Sikap FA GMNI Terkait Krisis Mencekam 25 Agustus 2025, Keputusan Politik Presiden Menentukan Nasib Indonesia
Evaluasi Kritis Forum Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia Terhadap Amnesti dan ABOLISI Koruptor
Beredar Kabar Bupati PATI Turun Mendadak, Rakyat Jangan Sampai Jadi Korban!”
Regulasi Selalu Tidak Terhubung Dengan Kondisi Obyektif
Wawancara Eksklusif Yunius Suwantoro, Jangan Tumpukan Beban Pemilu Hanya Pada Caleg. Pengurus, Kader, Sayap Partai, dan Masyarakat Harus Bergerak Bersama
DPC GMNI Kota Mataram Berharap Dualisme Kepemimpinan Harus Diakhiri Tahun 2025, Segera Lakukan Kongres Persatuan
Pentingnya Gerakan Ideologi dan Politik, Anak Bangsa Wajib Berjalan Sesuai Hukum Rasional Sejarah
TRAGEDI ESENSIAL REPUBLIK INDONESIA, Reformasi Adalah Kontra Revolusi

Berita Terkait

Kamis, 4 September 2025 - 10:48 WIB

Pernyataan Sikap FA GMNI Terkait Krisis Mencekam 25 Agustus 2025, Keputusan Politik Presiden Menentukan Nasib Indonesia

Kamis, 14 Agustus 2025 - 23:15 WIB

Evaluasi Kritis Forum Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia Terhadap Amnesti dan ABOLISI Koruptor

Rabu, 13 Agustus 2025 - 18:09 WIB

Beredar Kabar Bupati PATI Turun Mendadak, Rakyat Jangan Sampai Jadi Korban!”

Rabu, 6 Agustus 2025 - 19:26 WIB

Regulasi Selalu Tidak Terhubung Dengan Kondisi Obyektif

Kamis, 24 Juli 2025 - 01:40 WIB

Yunius Suwantoro Tanggapi Sindiran Roy Suryo “Partai Gajah”: Politik Harus Berdiri di Atas Etika dan Gagasan

Berita Terbaru

Pemikiran

Tentang Gemah Ripah Loh Jinawi

Minggu, 23 Nov 2025 - 00:49 WIB