Konstalasi politik yang semakin keruh dalam sebuah organisasi harus segera dicarikan solusi agar tidak terjadi perpecahan yang mengakibatkan kehancuran.
Semua pengurus dan anggota organisasi memiliki hak dan kewajiban yang sama dalam menyuburkan nilai nilai ideologi Marhaenisme.
Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Kota Mataram, Satya Ubhaya Sakti, menyatakan sikap tegas terhadap kondisi dualisme kepemimpinan yang telah membelah GMNI selama lebih dari lima tahun pasca Kongres Ambon 2019. Ia menegaskan bahwa tahun 2025 harus menjadi momentum persatuan untuk menyelamatkan arah perjuangan organisasi.
“Dualisme adalah ancaman serius bagi masa depan GMNI. Sudah cukup energi kita terkuras oleh konflik internal. Saatnya kita bersatu dan kembali ke garis perjuangan yang sejati,” ucap Satya
Menurutnya, perpecahan antara dua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) yang masing-masing mengklaim legitimasi kepemimpinan hanya memperburuk kondisi organisasi di daerah. Ia menyebut, banyak kader di basis menjadi korban kebingungan struktural hingga proses kaderisasi mandek di sejumlah cabang.
“Situasi ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut. GMNI harus mengambil langkah penyelamatan organisasi. Kami di DPC GMNI Kota Mataram mendorong dilaksanakannya Kongres Persatuan sebagai jalan konstitusional dan historis untuk menyatukan kembali gerakan,”, tambah Satya.
Satya juga menyinggung bahwa tindakan dua DPP saat ini telah menyimpang dari nilai-nilai dasar GMNI dan ajaran Bung Karno yang selalu menjunjung tinggi persatuan.
“GMNI lahir dari fusi tiga organisasi mahasiswa nasionalis. Ini selalu kita sampaikan dalam materi kaderisasi tingkat pertama. Kalau mereka benar-benar memahami sejarah, tentu tidak akan terjebak dalam ego kepemimpinan,” tegasnya.
Menutup pernyataannya, Satya menyerukan agar seluruh kader GMNI di Indonesia, baik yang masih aktif di kampus maupun yang telah menjadi alumni, turut bersikap dan bertindak untuk mendorong terciptanya Kongres Persatuan.
“Ini bukan soal siapa yang menang atau siapa yang kalah. Ini tentang menyelamatkan GMNI dari kehancuran internal dan membangun kembali gerakan yang revolusioner, terorganisir, dan ideologis. Kita harus kembali bersatu demi cita-cita besar perjuangan,” tutup Satya.







