Berikut hasil wawancara singkat Redaksi dengan Yunius Suwantoro selaku kader PSI & Bendahara umum DPP Nasmar Indonesia terkait kondisi politik pada saat momentum pemilu.
Bagaimana pandangan anda tentang pemilu di Indonesia,,??
Pemilu di Indonesia sering kali diidentikkan dengan sosok calon legislatif (caleg) yang menjadi wajah utama dalam kampanye dan perjuangan politik. Namun, di balik itu, struktur partai politik memiliki banyak elemen penting yang sering kali kurang dimaksimalkan peranannya. Rumus kemenangan dalam pemilu sesungguhnya tidak hanya bergantung pada caleg semata, tetapi harus menjadi gerakan kolektif antara pengurus partai, kader, sayap partai, dan masyarakat pendukung.
Siapa yang seharusnya menanggung beban politik,,??
Beban politik yang hanya ditumpukan kepada caleg dapat menimbulkan ketimpangan dalam strategi pemenangan. Caleg yang bekerja sendiri tanpa dukungan struktur partai sering kali kewalahan dalam membangun jaringan, melakukan sosialisasi, hingga menjaga basis massa. Padahal, partai memiliki pengurus di berbagai tingkatan, mulai dari pusat hingga ranting, yang seharusnya turut berperan aktif mendukung para calon mereka.
Apa tugas dan fungsi kader partai..??
Kader partai seharusnya menjadi ujung tombak dalam menyebarkan visi, misi, dan program partai serta caleg yang diusung. Sayangnya, dalam banyak kasus, kader hanya menjadi pelengkap administratif yang tidak diberdayakan secara maksimal. Padahal, keterlibatan mereka dalam sosialisasi langsung ke masyarakat dapat menjadi kekuatan tersendiri dalam membentuk citra positif partai dan caleg.
Bagaimana seharusnya sayap partai bergerak…??
Sayap partai, baik yang terdiri dari pemuda, perempuan, maupun organisasi profesi, juga memiliki potensi besar yang belum sepenuhnya dimanfaatkan. Sayap-sayap ini memiliki jangkauan yang lebih luwes dan fleksibel dalam melakukan pendekatan ke berbagai segmen pemilih. Bila digerakkan dengan tepat, mereka bisa menjadi alat efektif dalam kampanye yang lebih tematik dan menyentuh isu-isu strategis, Ucap Yunius.
Bagaimana posisi masyarakat dalam pelaksanaan pemilu,,,??
Di sisi lain, partisipasi masyarakat juga tidak boleh hanya pasif sebagai pemilih. Masyarakat yang sudah memiliki kedekatan emosional atau ideologis dengan partai dan caleg seharusnya dilibatkan dalam kegiatan relawan, diskusi kebijakan, hingga pelatihan pengawasan pemilu. Pelibatan aktif ini tidak hanya memperkuat legitimasi caleg, tapi juga memperkuat budaya demokrasi yang sehat dan partisipatif.
Sistem pemenangan seperti apa yang harus dilakukan oleh partai politik..??
Partai politik perlu membangun sistem pemenangan yang kolektif dan terorganisir. Bukan sekadar memberikan SK pencalonan, tetapi juga menyediakan strategi bersama, logistik yang memadai, pelatihan tim sukses, hingga mekanisme evaluasi lapangan. Kemenangan caleg seharusnya menjadi hasil kerja gotong royong semua elemen partai, bukan hasil kerja individu yang dibiarkan bertarung sendirian.
Realitas di lapangan menunjukkan bahwa banyak caleg yang merasa ditinggalkan oleh struktur partai setelah pencalonan. Mereka harus menanggung beban finansial kampanye sendiri, mencari relawan secara mandiri, hingga menghadapi tekanan politik di daerah pemilihannya. Ini menciptakan ketimpangan yang menghambat regenerasi politik yang sehat dan merusak kepercayaan internal dalam partai.
Dengan memberdayakan semua elemen partai, pemilu tidak lagi menjadi ajang perjuangan individu, tetapi transformasi kelembagaan. Pengurus partai harus memberikan arahan dan dukungan nyata, kader menjadi penggerak lapangan, sayap partai menjadi jembatan isu, dan masyarakat menjadi mitra sejajar dalam demokrasi. Model ini akan memperkuat basis sosial partai dan menyiapkan kaderisasi jangka panjang.
Selain pemenangan kursi parlemen, apa rekomendasi anda terhadap partai politik saat ini,,??
Momentum pemilu harus dijadikan ajang konsolidasi total seluruh kekuatan partai. Tidak hanya soal perebutan kursi, tetapi bagaimana membangun kepercayaan publik dan membentuk struktur politik yang kuat dan berdaya. Kemenangan tidak boleh hanya dinikmati oleh caleg yang lolos, tetapi menjadi kemenangan bersama seluruh elemen partai dan rakyat.
Sebagai penutup, sudah saatnya partai-partai politik di Indonesia merumuskan ulang strategi pemenangannya. Beban pemilu tidak boleh hanya ditumpukan pada bahu caleg. Pengurus, kader, sayap partai, dan masyarakat harus bergerak bersama dalam satu gerakan terstruktur, sistematis, dan masif. Dengan cara ini, demokrasi Indonesia akan menjadi lebih sehat dan berkeadilan. Tutup Yunius Suwantoro.







