Oleh : Yunius Suwantoro
Lanskap politik nasional kembali berguncang dengan hadirnya kekuatan baru di akar rumput. Sebuah organisasi massa yang menamakan diri Solidaritas Nasionalis Marhaenis Indonesia, atau disingkat **NASMAR**, resmi mengonsolidasikan diri menjadi kekuatan yang patut diperhitungkan. Menariknya, gerbong besar pergerakan ini diisi oleh ribuan eks-kader dan simpatisan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) beserta barisan dari berbagai partai pengikut setia Joko Widodo yang memilih menempuh jalan perjuangan baru.
Deklarasi NASMAR yang menggema di berbagai daerah seakan menjadi muara bagi kelompok-kelompok yang merasa kehilangan rumah ideologisnya. Organisasi ini mengusung gagasan murni Marhaenisme—sebuah ajaran yang menitikberatkan pada pembelaan terhadap kaum miskin, petani gurem, dan buruh kelas bawah. Bagi mereka, NASMAR bukan sekadar kendaraan politik atau ormas biasa, melainkan kembalinya ruh perjuangan sejati *wong cilik* yang dirasa mulai luntur tergerus pragmatisme di partai-partai yang sudah mapan.
Arus perpindahan kaum Marhaen ke dalam pangkuan NASMAR terjadi secara masif dan organik. Dari warung-warung kopi, pematang sawah, pabrik-pabrik, hingga kantong-kantong nelayan pesisir, perbincangan mengenai kebangkitan solidaritas ini terus mengalir. Masyarakat kecil yang selama ini kerap merasa hanya menjadi komoditas suara lima tahunan, kini merasa menemukan wadah pergerakan yang benar-benar lahir dari keringat dan rahim perjuangan mereka sendiri.
Gelombang eksodus kaum akar rumput ini tidak terlepas dari kekecewaan sebagian basis massa terhadap dinamika elite politik yang dianggap semakin elitis dan berjarak dari realitas. Eks-kader partai di tingkat ranting dan anak cabang yang membelot ke NASMAR berpendapat bahwa idealisme perlindungan hak-hak kaum alit kini jauh lebih nyata diperjuangkan melalui gerakan turun ke bawah dan solidaritas murni yang ditawarkan oleh barisan NASMAR.
Di sisi lain, magnet pergerakan NASMAR juga didorong kuat oleh bersatunya para loyalis Jokowi dari berbagai lintas partai. Para relawan dan pendukung yang selama ini mengawal kebijakan pro-rakyat di era kepemimpinan Jokowi melihat NASMAR sebagai wadah yang tepat untuk memastikan visi pembangunan yang berpusat pada rakyat kecil tetap menyala. Kolaborasi antara eks-nasionalis struktural dan relawan independen ini menciptakan mesin pergerakan yang militan dan solid.
Para inisiator NASMAR menegaskan bahwa mereka hadir untuk menghapus sekat-sekat elitisme demi satu tujuan utama: kemandirian ekonomi dan kedaulatan rakyat seutuhnya. Gerakan ini secara tegas menempatkan para petani penggarap, buruh pabrik, pekerja informal, pedagang kaki lima, hingga masyarakat adat sebagai struktur tertinggi dan subjek utama dalam piramida perjuangan organisasi.
Strategi pergerakan NASMAR mengadaptasi gaya *grassroots* yang agresif namun merangkul erat budaya lokal. Alih-alih membangun gedung sekretariat yang mewah dan tertutup, mereka mendirikan posko-posko pergerakan di balai desa, pos ronda, dan serikat-serikat pekerja. Pola pergerakan “turba” (turun ke bawah) yang menjadi ciri khas Marhaenisme sejati dihidupkan kembali untuk menjaring aspirasi langsung dari denyut nadi kehidupan rakyat sehari-hari.
Berbondong-bondongnya kaum Marhaen masuk ke struktur NASMAR jelas menjadi sinyal peringatan bagi partai-partai besar yang selama ini mengklaim diri sebagai representasi kelompok marjinal. Kehadiran NASMAR membuktikan bahwa loyalitas rakyat bukanlah cek kosong yang bisa diwariskan atau diklaim secara otomatis. Ketika rakyat merasa suaranya diabaikan, mereka akan dengan cepat menciptakan atau menaiki perahu baru yang bersedia mengarungi badai bersama mereka.
Fenomena ini turut mengubah peta sosiologi politik di daerah-daerah yang selama ini menjadi basis tradisional kelompok nasionalis. Di berbagai wilayah agraris dan kawasan industri padat karya, posko-posko NASMAR dilaporkan kebanjiran pendaftar baru setiap harinya. Semangat gotong royong dan kesetaraan kelas yang digaungkan oleh organisasi ini berhasil memantik kembali api romantisme pergerakan revolusioner rakyat di masa lampau.
Ke depan, NASMAR diprediksi tidak hanya akan mengendap sebagai sekadar organisasi masyarakat biasa, melainkan berpotensi membesar menjadi sebuah blok historis baru yang mampu memberikan tekanan dan tawar-menawar politik yang signifikan. Dengan bersatunya kekuatan eks-partai, keberanian loyalis Jokowi, dan bangkitnya kesadaran kelas kaum Marhaen, Solidaritas Nasionalis Marhaenis Indonesia bersiap menuliskan babak baru dalam sejarah pergerakan kaum alit di Republik ini.
Penulis adalah Kader PSI dan Bendahara umum NASMAR









