Marhaenis: Kondisi Petani Ditengah Kebingunan Politik 2024

- Jurnalis

Kamis, 18 Januari 2024

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto Penulis Akbar Kamarruzzaman

Foto Penulis Akbar Kamarruzzaman

Momentum demokrasi yang akan dilaksanakan 14 Februari 2024 menarik untuk diikuti.

Karena banyak sekali figure dan gambar yang berceceran dipinggir jalan tetapi tidak dikenali oleh para pemilih.

Sebagi contoh dikabupaten Magetan yang mayoritas penduduknya memiliki pekerjaan sebagai petani.

Mereka kebingungan dalam menentukan suara akan diberikan kepada siapa ketika sudah hari pencoblosan tiba, terutama untuk memilih DPRD Provinsi, Pusat atau RI dan DPD.

karena memang faktanya petani tidak pernah mengenal sosok yang dipajang dengan raut wajah gembira dan tanpa beban tersebut.

Jika mengutip pemikiran dari Frankfurt School, mereka menjelaskan bahwa dunia politik adalah panggung transaksional antara kepentingan ekonomi (bisnis) dan politik (kekuasaan).

Akibatnya kesuksesan politik adalah ketika mampu meraih kekuasaan dan meraup pundi-pundi ekonomi untuk mensejahterakan para politisi dan kelompoknya.

Sangat kontradiktif dengan teori ekonomi politik yang melihat puncak kekuasaan bukan hanya untuk meraih kekuasaan, kemakmuran demi kepentingan pribadi dan kelompoknya saja.

Baca Juga :  Pendidikan Politik Untuk Melawan Golput, Potret Peristiwa Pemilih Yang Kebingungan Ditingkat Desa

Tetapi harus memperjuangkan kepentingan masyarakat, kelihatannya sampai sekarang teori ini belum terlaksana dalam realitas kehidupan.

Politik transaksional, disadari atau tidak telah mempengaruhi laju kehidupan politik.

Sehingga para politisi lebih berpikir praktis dan mengesampingkan tujuan masyarakat demi memenuhi ambisi untuk berkuasa.

Karena Politik transaksional bisa memuluskan politisi untuk menduduki jabatan strategis.

Tetapi akibatnya sangat buruk terhadap kualitas moral para politisi itu sendiri.

Mereka pasti berpikir hanya bermodal uang banyak maka bisa memuluskan karier politik.

Pengabdian dan selalu turut hadir dalam masalah rakyat bukan lagi senjata ampuh pada saat ini untuk memenangkan pertarungan politik, karena perolehan suara hanya terfokus dalam wilayah advokasi saja.

Kalah dengan politisi baru yang masuk kedalam partai politik dengan membawa uang lima karung dan menjanjikan perolehan suara banyak.

Meskipun pada saat perhitungan tiba janji itu berjalan sesuai dengan harapan karena mereka membeli suara rakyat mengambang atau yang tidak paham politik dengan uang atau nominal.

Baca Juga :  Mantan Kabareskrim Polri Ito Sumardi Meminta Masyarakat Bijaksana Menilai Pembunuhan Vina dan Eki

sosok atau figur menjadi penentu utama keberhasilan politisi untuk memenangkan pemilihan daripada agenda program kerja yang ditawarkan.

Padahal rencana program kerja menjadi roh utama dalam upaya penyelenggaraan pemerintahan.

Melihat kondisi tersebut, kontestasi politik Indonesia mirip pertandingan antara individu dan figur.

Seakan tidak menampilkan hakikat program dengan unsur ideologis yang menjadi harapan untuk menjadi jawaban persoalan masyarakat.

Kondisi seperti ini pasti merugikan rakyat kecil, bahkan sulit untuk merubah kehidupan wong cilik menjadi lebih baik dan sejahtera.

Pada faktanya Rakyat kecil hanya digunakan sebagai objek untuk mencapai puncak kekuasaan.

Seperti pagelaran wayang, Pemilu kemungkinan hanya sekedar hiburan dan tontonan rakyat dengan berbagai peran dari politisi yang terkadang atraksi diluar kemampuan logika manusia pada umumnya.

 

Penulis
Akbar Kamarruzzaman
Bidang Advokasi Petani Pusat Kajian Marhaenis

Berita Terkait

Bondowoso Butuh Kesadaran Politik Generasi Muda Agar Pembangunan Daerah Meningkat Pesat
Green Economy sebagai Arah Wajib Pembangunan Jember
Revolusi Belajar Bahasa: Mengupas Efektivitas Subtitle Ganda Film Hollywood bagi Kognitif Anak
Tentang Gemah Ripah Loh Jinawi
Tanggung Jawab Moral Kader GMNI Terhadap Pengesahan RUU KUHAP
Indonesia Perlu Kaji Mendalam Pengembangan Senjata Laser, Ahli Ingatkan Kompleksitas Tinggi
RUU Perampasan Aset Mandek, Ancaman Rakyat Mogok Pajak Menguat
Perkembangan Indonesia dan Isu Wakil Rakyat menjadi Teori Konspirasi Luar Negeri

Berita Terkait

Rabu, 6 Mei 2026 - 12:58 WIB

Bondowoso Butuh Kesadaran Politik Generasi Muda Agar Pembangunan Daerah Meningkat Pesat

Senin, 4 Mei 2026 - 14:43 WIB

Green Economy sebagai Arah Wajib Pembangunan Jember

Selasa, 28 April 2026 - 16:41 WIB

Revolusi Belajar Bahasa: Mengupas Efektivitas Subtitle Ganda Film Hollywood bagi Kognitif Anak

Minggu, 23 November 2025 - 00:49 WIB

Tentang Gemah Ripah Loh Jinawi

Kamis, 20 November 2025 - 21:18 WIB

Tanggung Jawab Moral Kader GMNI Terhadap Pengesahan RUU KUHAP

Berita Terbaru

Pemikiran

Green Economy sebagai Arah Wajib Pembangunan Jember

Senin, 4 Mei 2026 - 14:43 WIB