Pamekasan, 25 Mei 2025 — Dinginnya malam dan hiruk pikuk lalu lintas tidak menyurutkan semangat sekelompok mahasiswa dari berbagai kampus di Pamekasan, Madura.
Meskipun berkumpul di trotoar kota, mereka bukan hanya sekadar nongkrong saja, melainkan untuk menggali lebih dalam ideologi besar: Marhaenisme.
Mahasiswa dari Universitas Islam Madura (UIM), IAIN Madura, Universitas Madura (Unira), hingga STIEBA tampak larut dalam diskusi santai namun penuh makna.
Beralaskan tikar sederhana, mereka mengupas kembali gagasan Bung Karno tentang Marhaenisme.
Marhaenisme merupakan sebuah ideologi kerakyatan yang berakar pada realitas hidup rakyat kecil, kaum tani, buruh, dan nelayan.
“Marhaenisme adalah jalan perjuangan rakyat, bukan sekadar teori kosong. Hari ini, saat kapitalisme merajalela, kita harus kembali pada prinsip-prinsip perjuangan yang membumi,” tegas salah seorang mahasiswa UIM dengan nada penuh semangat.
Diskusi ini menyoroti pentingnya peran mahasiswa sebagai pelanjut estafet perjuangan rakyat. Bukan hanya melalui aksi demonstrasi, tetapi juga lewat penyadaran, pembacaan realitas sosial, dan konsolidasi intelektual.
Di tengah krisis multidimensi yang melanda, Marhaenisme harus hadir sebagai napas alternatif yang menolak ketimpangan dan penindasan struktural, pemikiran ini muncul ditengah perjalanan diskusi yang dihayati oleh semua peserta.
Lebih dari sekadar diskusi, pertemuan ini membuktikan bahwa mahasiswa Pamekasan Madura masih menjaga bara perjuangan itu.
Mereka menunjukkan bahwa kesadaran kelas dan keberpihakan pada kaum kecil tidak mati, hanya perlu dipantik kembali.
“Ini bukan diskusi terakhir. Ini baru permulaan. Marhaenisme harus terus kita bicarakan, kita hidupkan, dan kita perjuangkan,” pungkas seorang mahasiswa STIEBA, menutup malam dengan api semangat yang menyala-nyala. (Bung)









