Keterikatan pada sesuatu diakibatkan oleh keberadaan yang telah menempel ditubuh sejak dalam kandungan. Seperti; kehendak, keinginan, dorongan (Ghodob), suka, senang, cinta, benci (Nafs), inilah disaat kita menyenangi, menyukai hingga menimbulkan rasa tak nikmat, bila akan sesuatu tersebut, tak ada, tanpa dilakukan, baik disifati maupun bentuk berupa tindakan. Karena, wilayah ini tak menggunakan alasan rasio.
Ada bagian tubuh lain yang selalu bermain kelogisan ialah akal (Aqli). Disini berbagai macam wujut membutuhkan penjelasan bersama berbagai alasan masuk diakal (logis). Hal ini disebabkan oleh kesukaan, ketertarikan harus berinteraksi lewat akal logis, keberadaan itu akan abadi oleh karena letak akal menaungi Ghodob dan Nafs. Akhirnya mengaktifkan, kesukaan, ketertarikan, berlandaskan kebutuhan, keperluan bagi kehidupan juga hidup. Inilah yang dimaksudkan sifat, tindakan dari kemauan diri ( kesadaran).
Ketiga pokok utama itu, merupakan pemahaman bagi pengembangan pemikiran, literasi, menulis, diskusi dan menghasilkan para pemikir berkualitas, ketajaman analisa, ide ide cerdas,. Bukan melihat formalitas atau mengikuti pendapat orang banyak yang ingin dianggap hebat tapi tak mempunyai kemampuan dalam pemikiran.jika melihat kuantitas sebagai kehebatan. Model seperti ini sangat banyak di Indonesia dan dibantu amat kuat pola sistem pendidikan dengan mengolah anak didik, melepas literasi, membentuk kreatif berpikir menjadi pekerja, tidak mengarahkan kebebasan kebebasan kemauan serta berpikir.
Supaya berkembangnya pemikiran cerdas diantara rakyat Nusantara, maka para pendidik wajib mengenal pemahaman terhadap keberadaan ghodob, Naf dan aqli sehingga manusia akan mengerti, mengenal, memahami, membuat sistem pendidikan dibarengi berkebudayaan Indonesia. Beralasan disesuaikan dengan karakter, kemauan, kesukaan, kesenangan, akhirnya melahirkan kesadaran pada bentuk sifat, tindakan (aksi), karena kontrol Ghodob, Nafs, berada diakal, kelogisan , sehingga akan menetapkan diri berjalan dalam ke ilmuan yang disukai, disenangi, bersama keabadian, dikarenakan lebih mengutamakan akal, kelogisan, atas kesukaan yang diminati oleh diri sendiri. Inilah kesadaran, menuju arah kecerdasan.









