Sejarah Keris : Menyusur Jejak Perpindahan Para Mpu  Sunda Galuh Pajajaran Ke Tuban (Sebuah Hipotesa)

- Jurnalis

Senin, 3 Februari 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Keris Dalam Sejarah Nusantara

Berdasarkan atas catatan sejarah yang berupa temuan candi maupun prasasti, telah menggambarkan bahwa keris maupun tosan aji lain dibuat oleh seorang mpu dengan dibantu beberapa orang panjak (asisten mpu). Gambaran tersebut terlihat jelas dalam relief Candi Sukuh, Karanganyar, Jawa Tengah. Diperkirakan candi tersebut dibangun pada masa pemerintahan Ratu Majapahit, Suhita (1429 – 1446 Masehi).

Jauh sebelum Candi Sukuh dibangun, pada era kerajaan Mataram Kuno sebuah prasasti yang ditemukan di desa Dakuwu, Grabag, Kabupaten Magelang menggambarkan bentuk-bentuk barang yang menyerupai trisula, kapak, kudi dan juga keris. Prasasti tersebut bernama Prasasti Dakuwu, yang diperkirakan dibuat pada abad ke-6 atau ke-7 Masehi.  Dengan adanya temuan prasasti ini, menandakan bahwa tosan aji telah dikenal sejak dahulu kala. Dan mpu-lah yang mempunyai peran cukup penting dalam membuat persenjataan tersebut, khususnya keris.

Relief tentang keberadaan keris juga terukir pada pahatan batu andesit disalah satu bagian Candi Borobudur (abad ke-8 atau ke-9 Masehi), yang dibuat pada masa Raja Samaratugga. Dimasa Prabu Samaratungga ini, senjata tikam yang diberi nama “Keris” ini sempat tertulis didalam salah satu fragmen batu pada Prasasti Kayumwungan. Prasasti  Kayumwungan  sendiri ditulis oleh Rakai Patapan Mpu Palar, pada 26 Mei tahun 824 Masehi atau 746 Saka.

Jika kita merujuk pada dua buah lempengan tembaga beraksara Kawi, yang ditemukan di Randusari, Prambanan, Kabupaten Klaten, atau biasa disebut sebagai Prasasti Poh (tahun 904 Masehi). Keris memiliki peran yang sangat agung, yaitu sebagai perlengkapan ritual keagamaan pada masa itu. Dalam prasasti ini keris disebutkan sebagai salah satu benda dalam upacara pembebasan atau patok tanah perdikan (sima). Sima, merupakan tanah yang dibebaskan dari pembayaran pajak kepada negara atau pemerintah pusat karena satuan wilayah yang bersangkutan dibebani kewajiban tertentu, biasanya untuk merawat suatu bangunan suci. Pembebasan sima juga dapat terjadi karena suatu daerah dianggap berjasa terhadap Raja.

Setelah era pemerintahan Sir Stamford Raffles digantikan oleh pemerintahan Hindia Belanda, seorang Pejabat Kolonial saat itu yang bernama Hartmann pada tahun 1853 memerintahkan untuk membongkar stupa. Setelah stupa dibongkar didalamnya ditemukan sebuah arca Budha yang belum selesai serta berbagai macam benda-benda, termasuk salah satunya adalah Keris. Dari sini dapat kita lihat bahwa Keris memiliki peran penting, meskipun belum dapat kita ketahui apa maksud meletakkan keris didalam stupa tersebut. Yang jelas ada kemungkinan terkait dengan ritual keagamaan pada masa itu.

Kerajaan Sunda Galuh Pada Abad ke-7 Sampai ke-11

Secara etimologi makna Sunda berasal dari kata Sund yang berdasarkan atas bahasa Sansekerta adalah putih atau bersinar terang. Dalam bahasa Kawi sendiri, Sunda diartikan bersih tidak tercela.

Dalam naskah Wangsakerta, disebutkan bahwa Kerajaan Sunda merupakan penerus dari Kerajaan Tarumanegara. Kerajaan Sunda sendiri didirikan oleh Prabu Trusbawa pada Radite Pon, 9 Suklapaksa, Sasi Yista, Angka Tahun 591 Saka atau tahun 669 Masehi, yang tidak lain adalah menantu dari Prabu Linggawarman Raja Tarumanegara terakhir. Akibat berdirinya Kerajaan Sunda tersebut maka Kerajaan Galuh memisahkan diri dari Kerajaan Tarumanegara, yang saat itu sudah mengalami kemunduran. Raja Wretikandayun yang merupakan raja Galuh saat itu, adalah menantu dari Ratu Shima dari Kerajaan Kalingga, tidak bersedia menjadi taklukan Kerajaan Tarumanegara atau Kerajaan Sunda. Strategi politik Prabu Wretikandayun ini waktunya tepat, dimana kekuasaan Tarumanegara maupun Sunda saat itu lemah.

Baca Juga :  Aktivis Pembela Marhaen

Pada tahun 723 setelah mangkatnya Prabu Trusbawa, Rakyan Jamri yang tak lain adalah cicit Prabu Wretikandayun menggantikannya menjadi Raja Sunda. Saat menjadi Raja Sunda, berganti nama menjadi Prabu Harisdarma atau kelak setelah menaklukan Galuh lebih dikenal dengan nama Sanjaya. Saat itu Sanjaya berhasil menyatukan Sunda dan Galuh. Tahun 732 Masehi, Sanjaya melanjutkan pemerintahan Kerajaan Mataram Hindu atau Medang Mataram, dan menyerahkan Kerajaan Sunda Galuh kepada putranya yang bernama Rakyan Panaraban. Konflik antara Kerajaan Sunda dengan Galuh terjadi hingga tahun 989 Masehi.

Peperangan yang terjadi pastilah membawa dampak, salah satunya adalah tumbuh dan berkembangnya besalen.  Besalen-besalen menjadi workshop para mpu untuk membuat keris dan senjata lainnya yang digunakan sebagai ageman para prajurit dan nayaka praja.

Pada tahun 1030 Masehi hingga 1042 Masehi, saat itu Kerajaan Sunda dipimpin oleh Sri Jayabhupati yang merupakan menantu Sri Maharaja Isyana Darmawangsa Teguh, Raja Kerajaan Mataram Hindu terakhir atau Medang Mataram yang saat itu telah berpindah di Jawa Timur. Penetapan Sri Jayabhupati sebagai Raja Sunda diterangkan dalam sebuah prasasti, yang bernama Prasasti Sanghyang Tapak pada tahun Saka 952, Wulan Kartika hari ke-12, Wuku Tambir. Atau dalam penanggalan saat ini menunjuk tanggal 11 Oktober 1030 Masehi. Prasasti ini ditulis dengan menggunakan aksara Jawa Kuno yang memiliki corak dan karakter seperti halnya prasasti-prasasti di Jawa Timur. Dari adanya prasasti ini dapat kita lihat bahwa hubungan antara Sunda dengan Mataram Hindu atau Medang Mataram sangat erat.

Tuban Dimasa Prabu Darmawangsa dan Airlangga

Dalam sebuah kronik China menyebutkan kedatangan tiga orang utusan dari Medang Mataram pada tahun 992 Masehi. Para utusan tersebut membawa hadiah berupa perangkat sirih pinang, tikar rotan yang bergambar burung kakak tua putih, mutiara, kain tenun, miniatur rumah-rumahan dari kayu cendana, keris dengan hulu dari cula badak, emas, gading gajah dan mutiara.

Prabu Darmawangsa meminta barang-barang persembahan tersebut digunakan sebagai contoh barang yang akan diperdagangkan ke manca negara. Prabu Darmawangsa sendiri memerintahkan pembuatan kapal-kapal sebanyak-banyaknya, yang didukung oleh banyaknya kayu jati di Jawa Timur.

Tahun 990 Masehi, Darmawangsa melakukan penyerangan ke Palembang (Sriwijaya). Berita penyerangan tersebut tercatat pada masa Dinasti Song di Tiongkok. Invasi atas Sriwijaya oleh Medang Mataram tentunya dilakukan lewat lautan dengan menggunakan kapal-kapal. Invasi tersebut tentu memerlukan banyak sumberdaya, salah satunya adalah para pembuat senjata. Kabar berita pengerahan para Mpu sebagai pembuat senjata, khususnya keris pada masa invasi ini memang tidak ditemukan, namun patut diduga bahwa mpu-mpu yang kerajaannya memiliki keterikatan dengan Kerajaan Mataram akan mengirimkan mpu-mpu terbaiknya membantu menyediakan logistik peralatan perang, termasuk kemungkinan para mpu Kerajaan Sunda seperti Mpu Ni Sombro, Mpu Kuwung dan sebagainya. Pembuatan besalen disekitar pelabuhan akan lebih efisien dan efektif, karena lebih mudah pengangkutannya baik dalam hal penerimaan material bahan baku maupun setelah barang jadi.

Baca Juga :  Rancangan Undang Undang Perampasan Aset Akan Dibahas DPR RI Periode Selanjutnya, Berikut Penjelasan Ahmad Sahroni

Peperangan antara Sriwijaya dengan Medang Mataram berlangsung sampai 1017 Masehi. Hingga berakhir dengan tewasnya Darmawangsa saat mengadakan acara pernikahan putrinya dengan Airlangga putra Raja Udayana Bali. Masa perang yang panjang ini menyebabkan para mpu yang ditugaskan sementara oleh kerajaan asal (termasuk Mpu dari Kerajaan Sunda), menjadi warga tetap dan terhormat di kerajaan Medang Mataram. Ini akan menjawab pertanyaan, untuk apa para mpu tersebut berhijrah meninggalkan daerah asalnya?

Tuban sebagai salah satu pelabuhan sudah ada sebelum Pemerintahan Airlangga menggantikan Pemerintahan Medang Mataram. Saat itu Pelabuhan Tuban masih bernama kembang putih. Pada masa Airlangga pelabuhan tersebut ditetapkan sebagai pelabuhan besar. Sejak jaman Darmawangsa patut diduga bahwa konsentrasi pusat pembuatan perkakas perang termasuk keris, besalennya ada di daerah ini.

Hipotesa

1.            Sejak abad ke-10 hubungan antara Kerajaan Sunda Galuh dengan Medang Mataram sangat erat. Kerajaan Sunda Galuh tidak terlibat secara langsung membantu Kerajaan Medang Mataram dalam konflik dengan Sriwijaya.

2.            Ada dugaan para mpu terbaik kerajaan Sunda Galuh diutus ke Medang Mataram untuk membantu dalam pembuatan keris-keris pada masa konflik dengan Sriwijaya. Salah satu ciri keris anggabah kopong ditemukan dalam keris tangguh Sunda Galuh/Pajajaran dan juga tangguh Tuban.

3.            Perjalanan Mpu Ni Sombro (dan Keluarga tentunya) serta mpu Sunda Galuh/Pajajaran lainnya yang menempuh jarak cukup jauh saat itu, bukanlah alasan ekonomi namun lebih dari itu yaitu sebuah perjalanan politik.

4.            Invasi yang dilakukan oleh Darmawangsa ke Sriwijaya (Palembang) menggunakan kapal-kapal besar (Jung) yang tentu memerlukan area dermaga yang luas dan besar, dan pelabuhan kembang putih (Tuban) saat itu telah memenuhi syarat.

5.            Dengan adanya invasi tersebut tentunya memerlukan persediaan senjata yang banyak dan besar. Besalen-besalen banyak didirikan pada masa itu, dan terletak tidak jauh dari pelabuhan untuk mempermudah logistiknya.

6.            Keris Tuban Sunda Galuh/Pajajaran yang ditemukan rata-rata adalah berupa keris lurus dengan dapur sederhana, ini bukan tanpa sebab. Karena pada masa itu adalah masa perang, jadi memerlukan pembuatan keris yang cepat sesuai dengan fungsinya yaitu senjata tikam.

7.            Keris tangguh Tuban Sunda Galuh/Pajajaran yang dibuat pada era Darmawangsa ini memiliki proporsi baja yang tinggi, karena digunakan untuk peperangan.

Daftar Pustaka

1.            Keris pada masa Jawa Kuna, Edi Sedyawati, Keris Dalam Perspektif Keilmuan, Kementrian Kebudayaan dan PariwisataRepublik Indonesia, 2011.

2.            https://id.wikipedia.org/wiki/Dharmawangsa_Teguh

Penulis
 R. Hari Jatmiko, Ssi., CSCM.
DPP Gerakan Pemuda Nasionalis Marhaenis (NASMAR)
Departemen kebudayaan Nasional

Berita Terkait

Bondowoso Butuh Kesadaran Politik Generasi Muda Agar Pembangunan Daerah Meningkat Pesat
Green Economy sebagai Arah Wajib Pembangunan Jember
Revolusi Belajar Bahasa: Mengupas Efektivitas Subtitle Ganda Film Hollywood bagi Kognitif Anak
Tentang Gemah Ripah Loh Jinawi
Tanggung Jawab Moral Kader GMNI Terhadap Pengesahan RUU KUHAP
Indonesia Perlu Kaji Mendalam Pengembangan Senjata Laser, Ahli Ingatkan Kompleksitas Tinggi
RUU Perampasan Aset Mandek, Ancaman Rakyat Mogok Pajak Menguat
Perkembangan Indonesia dan Isu Wakil Rakyat menjadi Teori Konspirasi Luar Negeri

Berita Terkait

Rabu, 6 Mei 2026 - 12:58 WIB

Bondowoso Butuh Kesadaran Politik Generasi Muda Agar Pembangunan Daerah Meningkat Pesat

Senin, 4 Mei 2026 - 14:43 WIB

Green Economy sebagai Arah Wajib Pembangunan Jember

Selasa, 28 April 2026 - 16:41 WIB

Revolusi Belajar Bahasa: Mengupas Efektivitas Subtitle Ganda Film Hollywood bagi Kognitif Anak

Minggu, 23 November 2025 - 00:49 WIB

Tentang Gemah Ripah Loh Jinawi

Kamis, 20 November 2025 - 21:18 WIB

Tanggung Jawab Moral Kader GMNI Terhadap Pengesahan RUU KUHAP

Berita Terbaru

Peristiwa

Peristiwa Film Pesta Babi dan Pestanya Para Babi 

Rabu, 13 Mei 2026 - 23:09 WIB