Manusia sosial konkret telah menyatakan bahwa seluruh lembaga sosial di dunia telah diklaim sebagai tidak becus, lapuk, dan usang. Hal ini dikarenakan lembaga sosial yang telah tersedia tidak menjalankan tugasnya sebagaimana mestinya dan tidak menunjukkan fungsi yang memadai bagi keberlangsungan hidup anak-anak manusia dalam men-dunia.
Klaim tersebut tidak berlandaskan sentimen maupun bentuk-bentuk lain yang berorientasi kepentingan, tetapi berdasarkan fakta historis yang logis dan realistis. Lembaga sosial yang ada saat ini sudah tidak mampu lagi melanjutkan eksistensinya karena telah retak.
Lembaga sosial di dunia ini yang dapat ditunjuk adalah Perserikatan Bangsa-Bangsa, negara, agama, dan berbagai organisasi sosial. Lihatlah secara objektif (cara pandang yang logis dan realistis) terhadap keberadaan PBB, negara, agama, maupun organisasi sosial tersebut. Mereka tidak lain dan tidak bukan adalah tempat berkumpulnya manusia-manusia yang hanya mementingkan diri sendiri maupun gerombolannya saja, dan jumlah mereka tidak lebih dari 4 persen dari populasi yang ada di muka bumi. Namun, mereka berkuasa penuh atas populasi mayoritas yang mendiami bumi.
Kemerdekaan anak-anak manusia yang tinggal di muka bumi dalam rangka men-dunia telah ratusan tahun terancam eksistensinya. Ancaman itu dilakukan oleh lembaga sosial yang imperialistik, kolonialistik, bahkan secara ekstrem dapat dikatakan otoritatif dan diktator. Bentuknya berbeda dengan model-model nekolim (meminjam istilah Bung Karno) di masa lalu. Ketidakberdayaan anak-anak manusia itu menimbulkan kebangkitan sosial yang telah membentuk lembaga sosial baru yang demokratis.
Ada sebuah lembaga sosial baru yang berdiri di antara tembok-tembok putih, rumput hijau, dan kebun binatang yang berwujud manusia. Dinding-dinding misterius, tembok-tembok putih, serta pintu-pintu gerbang raksasa yang kokoh diabaikan begitu saja. Perserikatan Bangsa-Bangsa, agama, negara, dan lembaga-lembaga sosial penyokongnya telah berada pada posisi esensinya yang disorientatif terhadap realitas sosial konkret.
Para hantu sosial, drakula politik, dan begundal-begundal sontoloyo telah dihapus oleh rasio historis dengan instrumen sejarah yang bernama *Hukum Rasional Perubahan*.
Ajaran lembaga sosial lama yang gelap itu berbunyi sebagai berikut:
“Perjuangan, pengorbanan, dan pengabdian adalah mutlak dan wajib bagi anak-anak bangsa.”
Pernyataan dari rezim lembaga sosial lama ini adalah ajakan untuk menyokong terwujudnya hegemoni mereka, namun *gagal*…
Hal tersebut berakibat pada tumbuh dan berkembangnya fanatisme serta loyalitas yang berlebihan terhadap lembaga sosial. Yang fatal, loyalitas ini diarahkan kepada pemimpin, dan inilah awal tergulungnya lembaga sosial lama oleh *Hukum Rasional Perubahan. Ketika keberadaan lembaga sosial lama menjadi abu-abu, maka sudah dapat dipastikan ia akan terjerumus ke dalam situasi batas sosial yang **gelap*.
Berikut adalah versi yang telah diperbaiki dengan tata bahasa yang lebih baik tanpa mengurangi gaya bahasa aslinya:
Ketersediaan Sosial
Ketersediaan selalu menjadi pilihan bagi dambaan sebagian orang, sebagian kelompok. Hal ini terus-menerus terjadi dalam kehidupan sosial manusia. Ketersediaan tersebut adalah pancang-pancang kebenaran, pancang-pancang kebaikan, yang keduanya dianggap mampu membawa serta segala perubahan, segala kemajuan, dan seluruh tujuan yang menjadi dambaan.
Ketersediaan sosial itu memang benar-benar ada dan telah menjadi. Oleh karena itu, pilihan-pilihan yang sudah tersedia itu boleh dipakai, boleh juga tidak, karena sediaan sosial masih bersifat kontingensi, artinya keberadaannya dan keberlanjutannya bergantung pada sesuatu yang lain. Inilah yang dinamakan hak setiap individu manusia konkret.
Misalnya, telah tersedia berbagai agama di dunia; ketersediaannya boleh digunakan atau tidak. Dengan demikian, agama adalah hak, bukan kewajiban. Contoh lainnya adalah berbagai isme-isme di dunia—mereka ada dan bisa menjadi pilihan, tetapi boleh juga tidak dipilih. Tentunya masih banyak contoh lain yang serupa.
Sampai saat ini, arah kebebasan manusia sudah tidak bisa lagi diterjemahkan ke dalam teks-teks, baik berupa pasal-pasal maupun ayat-ayatnya, dengan alasan apa pun atau atas nama apa pun.
Manusia adalah kebebasan. Ciptakanlah dirimu dengan bebas
Sesuatu yang ilusif, fantastik, halusinatif, dan tahayul tidak pernah ada dalam diri saya. Saya hanya berinteraksi dengan orang lain dalam rangka ada dan menjadi, dengan dilandasi oleh hal yang logis dan realistis.
Saya sebagai individu manusia yang tinggal di muka bumi ini meniscayakan diri saya sendiri sebagai eksistensi yang autentik, sebagai eksistensi yang beresensi, sebagai eksistensi yang menciptakan kebebasan saya sendiri, sebagai eksistensi yang menciptakan cita-cita saya sendiri. Kesadaran sosio-historis dan sosio-kultural saya sebagai individu manusia meniscayakan eksistensi saya untuk berinteraksi dengan individu lain dalam konteks yang lebih luas. Interaksi ini bisa berupa interaksi edukatif, interaksi politis, maupun berbagai macam interaksi lainnya. Apa yang didapatkan dalam berinteraksi itu bukanlah tujuan utama. Yang terpenting adalah menjalani proses kehidupan sosial seumur hidup.
Tahapan Perjalanan Manusia dalam Rasional Sejarah
Manusia adalah dimensi yang multikompleks, konkret, dan individual. Ia hidup dalam waktu, berada pada posisi ruangnya, bergerak pada tempatnya, dan bertualang dalam esensinya yang utuh sebagai eksistensi yang autentik.
Namun, dalam perjalanan waktunya, manusia sering kali terperangkap dalam masa lalu dan masa depan, hingga ia cenderung tidak menyadari waktu sekarang.
Ketika berada pada ruangnya, manusia menyadari historisitasnya sebagai manusia. “Aku ini adalah suku bangsa manusia,” demikian ia menyadari keberadaannya bersama seluruh saudara-saudaranya di muka bumi. Ia menjadi bagian dari suatu bangsa dalam sebuah negara, dan sebagai bangsa Indonesia, ia meniscayakan dirinya ada sebagai bagian dari Republik Indonesia.
Dalam posisinya di tempatnya, manusia tidak dapat menghindari interaksi sosial. Di dalamnya terhampar luas berbagai bentuk interaksi: ada interaksi edukatif, interaksi politis, serta berbagai interaksi manipulatif. Dari sinilah manusia mulai menjalani kehidupan sosial yang kompleks.
Saat manusia bertualang dalam esensinya, ia berhadapan langsung dengan seluruh keberadaannya. Ada dimensi estetis, dimensi etis, bahkan dimensi religius.
Pada tataran eksistensi yang autentik, manusia sungguh-sungguh menjadi manusia konkret, dengan identitas sebagai makhluk individu konkret, makhluk sosial konkret, bahkan lebih dari itu. Ia bisa menjadi Homo sapiens, bisa menjadi Homo faber, bisa menjadi Homo ludens, bahkan bisa menjadi homoseksual, dan masih banyak kemungkinan lainnya.
Dalam pemahaman umum, masa depan sering kali dikaitkan dengan harapan dan tujuan yang ingin dicapai oleh individu atau masyarakat. Namun, pandangan tentang masa depan dapat berbeda-beda tergantung pada perspektif dan nilai-nilai yang dianut.
Masa depan tidak lagi berpedoman pada keadilan sosial, melainkan lebih berpijak pada proses sejarah. Hal ini menunjukkan adanya pergeseran dalam nilai-nilai yang menjadi landasan bagi perkembangan masyarakat. Keadilan sosial menekankan distribusi kekayaan dan kesempatan yang adil bagi seluruh anggota masyarakat. Namun, kini masa depan lebih fokus pada proses sejarah ketimbang keadilan sosial.
Pendapat ini membutuhkan renungan yang radikal dan mendalam. Perubahan ini signifikan dan memerlukan pemikiran yang lebih dalam untuk dipahami. Renungan yang radikal dan mendalam mengajak kita melakukan refleksi kritis terhadap nilai-nilai yang ada, menganalisis perubahan sosial dan politik, serta memahami sejarah dalam konteks yang lebih luas.
Historisitas manusia tidak lagi ditentukan oleh dogma
Pergeseran ini mengindikasikan cara manusia memahami dan menginterpretasikan sejarah telah berubah. Dogma, sebagai keyakinan mutlak yang tidak boleh dipertanyakan, kini tidak lagi menjadi penentu historisitas manusia. Manusia kini memiliki kebebasan untuk memahami sejarah dalam konteks dan perspektif yang berbeda.
Namun, perlu diingat bahwa pandangan tentang masa depan dan historisitas manusia dapat bervariasi tergantung pada individu. Diskusi dan refleksi yang lebih mendalam dapat membantu memahami perubahan ini dengan lebih baik serta mengembangkan pemikiran yang lebih kritis dan inklusif.
Teruslah menjalani hidup sesuai dengan kapasitas yang ada pada diri kita masing-masing
Sesuai dengan talenta yang kita miliki, berikan waktu yang cukup untuk diri sendiri, jaga kehidupan kita masing-masing. Jika suatu saat nanti kita menemukan seorang sahabat sejati, maka itu adalah keberuntungan dalam hidup. Lihatlah jendela kehidupan itu—di sana terbentang hamparan luas, terdapat keanekaragaman kehidupan. Bisikkanlah dengan lembut kepada sahabat sejatimu:
“Sahabatku… dalam kebersamaan ini, aku selalu menghimbau engkau supaya menjadi bersatu sebagai kita.”
Sebuah Ilustrasi
Ada sebuah lembaga baru yang telah berani meninggalkan gumpalan yang lama, yang berani melompati situasi batas, yang tidak lagi tergantung pada yang lama, yang berlari meninggalkan yang lama tanpa menoleh ke belakang.
Lantas, apa yang terjadi pada yang lama? Bagi yang baru, itu bukan lagi persoalan.
Kepada yang baru, tetaplah tegar dan berani. Meskipun di belakang kalian ada banyak yang lama mencoba menghalangi, teruslah menjadi yang *baru*.
Hari ini adalah akumulasi dari kegiatan-kegiatan kemarin, yang terdampar dalam situasi sosial yang absurd.
Hari ini adalah saatnya melihat hamparan luas yang terbuka di depan, untuk dilalui.
Hari ini adalah waktunya merangkai tindakan produktif dan melompati situasi batas sosial yang absurd itu.
Hari ini adalah waktu yang disediakan oleh Hukum Rasional Sejarah untuk berpikir logis dan realistis.
Penulis
Djoko Sukmono
Filsuf Sosial Indonesia









