Dalam perhelatan Ulang Tahun Partai Gerindra yang ke 17 pada tanggal 15 Februari 2025 lalu, setelah mantan Presiden ke 7 Joko Widodo usai memberikan kata sambutannya, segera bergegas Ketua Umum Partai Gerindra yang juga sekaligus Presiden Indonesia terpilih dalam Pemilu lalu itu bergegas naik podium, dan menahan Pak Jokowi yang hendak turun.
Selanjutnya Presiden Prabowo menyerahkan cendera mata berupa kotak kayu berukir yang didalamnya berisi sebilah keris. Keris bergaya (Gagrak) Solo dengan batang sarung (pendok) kuning keemasan berukir sulur (lunglungan).
Budaya pemberian hadiah dari seorang pemimpin atau penguasa kepada seorang yang dianggap telah berjasa, dihormati, atau seorang yang dicintai sudah ada sejak jaman dahulu kala, dan sejarah telah menceritakan tentang hal tersebut.
Dalam ekspedisi Pamalayu, Kerajaan Singasari membawakan Arca Amoghapasa untuk Raja Pamalayu Dharmasraya.
Arca Amoghapasa sendiri sebagai lambang kecintaan dari Raja Singasari Kartanegara yang sangat besar kekuasaannya, kepada Raja Pamalayu Dharmasraya.
Hal ini tertulis pada bagian dari arca bertanggal 1206 saka atau 1286 masehi yang menyebut Raja Kartanegara memerintahkan memindah Arca Budda Amoghapasa dari Bhumijawa ke Swarnabhumi untuk ditempatkan di Dharmasraya sebagai hadiah.
Raja Pajang, Sultan Hadiwijaya memberikan hadiah sebidang wilyah di hutan Mentaok, kepada Danang Sutawijaya atas jasanya dalam melenyapkan Aryo Penangsang. Dan kelak dikemudian hari sepeninggal Hadiwijaya, tanah Mentaok menjadi Kerajaan, Danang Sutawijaya dinobatkan menjadi raja bergelar Panembahan Senapati.
Kembali pada Keris, dalam budaya nusantara khususnya Jawa pada catatan Ma Huan seorang pencatat dalam ekspedisi Cheng Ho, mencatat masyarakat Majapahit menyelipkan pu-la-tou dipinggangnya.
Ini mengindikasikan bahwa keris selalu dikenakan masyarakat saat itu untuk melindungi diri. Pada abad ke 14 keris memiliki banyak fungsi, yang pertama keris sebagai ageman, artinya keris dikenakan untuk keseharian.
Kedua keris sinengker, keris yang disimpan untuk dijadikan pusaka pelindung. Ketiga keris untuk kebutuhan perang, disini keris tidak perlu menggunakan pamor-pamor dari bahan meteorit. Jadi cukup yang diperlukan hanya campuran baja yang berkualitas.
Perkembangan seni dalam keris dimulai pada pemerintahan Brawijaya (1478 M) dimana raja mulai memerintahkan pembuatan keris untuk ageman. Pada era itu keris mulai dilihat sebagai estetika dan daya.
Pada saat itu keberadaan keris tidak hanya sebagai senjata saja namun juga sebagai status sosial dalam masyarakat.
Status sosial tersebut dapat dilihat dari sarung, asesoris dan jenis kerisnya. Sarung keris untuk strata sosial kalangan atas biasanya terbuat dari emas dengan hiasan yang ditatah atau diukir. Ukiran pada sarung keris bisa bergambar hewan atau tumbuhan.
Untuk bergambar tumbuhan pun beraneka ragam tergantung pada harapan dan doa dari sipemilik atau pembuat sarung keris. Gambaran tumbuhan yang merambat atau dalam Jawa disebut sebagai lunglungan. Makna lunglungan adalah saling mengulurkan tangan, saling membantu satu dengan lainnya.
Dalam acara pemberian keris di acara Ulang Tahun Partai Gerindra kepada Pak Jokowi ini dapat dimaknai sebagai penganugerahan tinggi dari Presiden Prabowo atau Gerindra atas dedikasi Pak Jokowi, disamping rasa cinta yang dalam.
Lunglungan saling tolong menolong sebagaimana gambaran pada sarung bilah kerisnya. Jadi bukan seperti anggapan sebagian orang yang tidak berdasar, bahwa pemberian keris tersebut bertujuan agar tidak ada matahari kembar.
Akhir, marilah kita belajar dari Sejarah dan Budaya agar dalam berargumentasi senantiasa kita memiliki dasar pijakan, khususnya bila menyangkut kearifan lokal. Rahayu Sagung Dumadi.
Penulis
R. Hari Jatmiko, SSi. CSCM.
Ketua Kebudayaan Nasional
DPP Gerakan Pemuda Nasionalis Marhaenis.









