Menurut literatur yang menerangkan tentang bagaimana protes terhadap ketidakpuasan yang berlaku di dalam tradisi ala Timur seperti misalnya masyarakat Jawa dapat dianggap berbeda dengan demo ala modern seperti yang biasa dilakukan masyarakat dari Barat yang saat ini mulai trend di negara kita saat ini. Meskipun mungkin tidak sama dalam bentuk, namun tujuannya tetap sama.
Berikut ini beberapa bentuk aksi protes yang biasa dilakukan masyarakat Jawa, antara lain :
1. Aksi protes melalui seni
Dalam budaya Jawa, seni sering digunakan sebagai sarana untuk mengungkapkan perasaan dan pendapat. Contohnya, wayang kulit atau tembang (lagu tradisional) dapat digunakan untuk menyampaikan pesan sosial atau politik.
2. Tradisi kritik sosial
Dalam sastra Jawa, seperti dalam karya-karya sastra klasik seperti “Serat Centhini” atau “Serat Wedhatama”, terdapat kritik sosial dan refleksi tentang kehidupan masyarakat. Ini menunjukkan bahwa masyarakat Jawa memiliki tradisi untuk mengungkapkan ketidakpuasan atau kritik terhadap kondisi sosial dan politik.
3. Protes melalui simbolisme
Dalam budaya Jawa, simbolisme sering digunakan untuk menyampaikan pesan yang lebih dalam. Contohnya, penggunaan simbol-simbol tertentu dalam pakaian atau dekorasi dapat memiliki makna yang lebih luas dan dapat digunakan untuk mengungkapkan ketidakpuasan atau protes.
Namun, perlu dicatat bahwa konsep demo modern seperti yang kita kenal sekarang, dengan massa yang berkumpul di jalan dan menyampaikan tuntutan secara langsung kepada pemerintah, mungkin tidak memiliki preseden langsung dalam tradisi Jawa. Demo modern lebih merupakan produk dari perkembangan politik dan sosial modern.
Menurut konsep Serat Wedhatama, suatu karya besar di bidang sastra yang ditulis K.G.P.A.A. Mangkunegara IV, seorang penguasa Mangkunegaran pada abad ke-19 menerangkan
ajaran moral dan filosofi hidup . Dalam Serat Wedhatama disebutkan beberapa cara untuk mengungkapkan protes atau kritik sosial, antara lain:
1.Menggunakan metafora dan simbolisme
Serat Wedhatama menggunakan metafora dan simbolisme untuk mengungkapkan kritik sosial dan politik. Contohnya, penggunaan simbol “kebon” (kebun) dan “wani” (bunga) untuk menggambarkan keadaan masyarakat yang tidak seimbang.
2. Kritik melalui nasihat
Serat Wedhatama berisi nasihat-nasihat yang bertujuan untuk memperbaiki perilaku dan moral masyarakat. Nasihat-nasihat ini dapat dianggap sebagai kritik sosial yang disampaikan dalam bentuk yang lebih halus.
3. Penggunaan bahasa yang lugas
Meskipun menggunakan bahasa yang halus, Serat Wedhatama juga menggunakan bahasa yang lugas dan jujur untuk mengungkapkan kritik sosial. Contohnya, kritik terhadap perilaku pejabat yang korup dan tidak adil.
4. Refleksi diri
Serat Wedhatama juga mendorong refleksi diri dan introspeksi untuk memperbaiki diri sendiri dan masyarakat. Ini dapat dianggap sebagai bentuk protes internal yang bertujuan untuk memperbaiki diri sendiri dan masyarakat.
Dalam Serat Wedhatama, protes atau kritik sosial disampaikan dalam bentuk yang lebih halus dan filosofis, sehingga dapat diterima dan dipahami oleh masyarakat Jawa di kala itu.
Penulis
Teuku Imran
Peneliti Sosial dan Politik







