Apakah Ekspresi Ketidakpuasaan Sosial Sudah Dimulai Sejak Dulu Kala ?!

- Jurnalis

Rabu, 17 September 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

 

Menurut literatur yang menerangkan tentang bagaimana protes terhadap ketidakpuasan yang berlaku di dalam tradisi ala Timur seperti misalnya masyarakat Jawa dapat dianggap berbeda dengan demo ala modern seperti yang biasa dilakukan masyarakat dari Barat yang saat ini mulai trend di negara kita saat ini. Meskipun mungkin tidak sama dalam bentuk, namun tujuannya tetap sama.

Berikut ini beberapa bentuk aksi protes yang biasa dilakukan masyarakat Jawa, antara lain :

 

1. Aksi protes melalui seni

Dalam budaya Jawa, seni sering digunakan sebagai sarana untuk mengungkapkan perasaan dan pendapat. Contohnya, wayang kulit atau tembang (lagu tradisional) dapat digunakan untuk menyampaikan pesan sosial atau politik.

 

2. Tradisi kritik sosial

 

Dalam sastra Jawa, seperti dalam karya-karya sastra klasik seperti “Serat Centhini” atau “Serat Wedhatama”, terdapat kritik sosial dan refleksi tentang kehidupan masyarakat. Ini menunjukkan bahwa masyarakat Jawa memiliki tradisi untuk mengungkapkan ketidakpuasan atau kritik terhadap kondisi sosial dan politik.

Baca Juga :  Budaya Aceh Yang Telah Ditetapkan Sebagai Warisan Budaya Tak Benda Nasional

 

3. Protes melalui simbolisme

 

Dalam budaya Jawa, simbolisme sering digunakan untuk menyampaikan pesan yang lebih dalam. Contohnya, penggunaan simbol-simbol tertentu dalam pakaian atau dekorasi dapat memiliki makna yang lebih luas dan dapat digunakan untuk mengungkapkan ketidakpuasan atau protes.

Namun, perlu dicatat bahwa konsep demo modern seperti yang kita kenal sekarang, dengan massa yang berkumpul di jalan dan menyampaikan tuntutan secara langsung kepada pemerintah, mungkin tidak memiliki preseden langsung dalam tradisi Jawa. Demo modern lebih merupakan produk dari perkembangan politik dan sosial modern.

Menurut konsep Serat Wedhatama, suatu karya besar di bidang sastra yang ditulis K.G.P.A.A. Mangkunegara IV, seorang penguasa Mangkunegaran pada abad ke-19 menerangkan

ajaran moral dan filosofi hidup . Dalam Serat Wedhatama disebutkan beberapa cara untuk mengungkapkan protes atau kritik sosial, antara lain:

 

1.Menggunakan metafora dan simbolisme

Serat Wedhatama menggunakan metafora dan simbolisme untuk mengungkapkan kritik sosial dan politik. Contohnya, penggunaan simbol “kebon” (kebun) dan “wani” (bunga) untuk menggambarkan keadaan masyarakat yang tidak seimbang.

Baca Juga :  Upacara adat Karia’a Budaya Suku Buton Wakatobi Yang Dilakukan Sejak 1918

 

2. Kritik melalui nasihat

Serat Wedhatama berisi nasihat-nasihat yang bertujuan untuk memperbaiki perilaku dan moral masyarakat. Nasihat-nasihat ini dapat dianggap sebagai kritik sosial yang disampaikan dalam bentuk yang lebih halus.

 

3. Penggunaan bahasa yang lugas

Meskipun menggunakan bahasa yang halus, Serat Wedhatama juga menggunakan bahasa yang lugas dan jujur untuk mengungkapkan kritik sosial. Contohnya, kritik terhadap perilaku pejabat yang korup dan tidak adil.

 

4. Refleksi diri

Serat Wedhatama juga mendorong refleksi diri dan introspeksi untuk memperbaiki diri sendiri dan masyarakat. Ini dapat dianggap sebagai bentuk protes internal yang bertujuan untuk memperbaiki diri sendiri dan masyarakat.

Dalam Serat Wedhatama, protes atau kritik sosial disampaikan dalam bentuk yang lebih halus dan filosofis, sehingga dapat diterima dan dipahami oleh masyarakat Jawa di kala itu.

 

Penulis

Teuku Imran

Peneliti Sosial dan Politik

Berita Terkait

Pemerintah DKI Tidak Mendukung Pagelaran Budaya, Anak Jalanan dan Kaum Proletar Merana
Renungan Malam Marhaenis, Kebangkitan Sang Tiran
Siwa Wajib Memahami Pancasila Karena Menjadi Bagian Ujian Nasional
Syair Marhaenis, Potret NKRI
Syair Marhaenis, Menjadi manusia Methodologis adalah panggilan Sejarah
Syair Nasionalis-Marhaenis, Gerakan Desukarnoisasi Yang Terstruktur dan Sistematis
Syair Marhaenis, Kepada Seseorang Yang Kukenal Seumur Hidupku
Desa Sugih Waras Kabupaten Bojonegoro Melakukan Sedekah Bumi Demi Kemakmuran Negeri

Berita Terkait

Rabu, 3 Desember 2025 - 23:39 WIB

Pemerintah DKI Tidak Mendukung Pagelaran Budaya, Anak Jalanan dan Kaum Proletar Merana

Rabu, 17 September 2025 - 15:07 WIB

Apakah Ekspresi Ketidakpuasaan Sosial Sudah Dimulai Sejak Dulu Kala ?!

Minggu, 10 Agustus 2025 - 00:32 WIB

Renungan Malam Marhaenis, Kebangkitan Sang Tiran

Kamis, 31 Juli 2025 - 23:53 WIB

Siwa Wajib Memahami Pancasila Karena Menjadi Bagian Ujian Nasional

Selasa, 22 Juli 2025 - 12:52 WIB

Syair Marhaenis, Potret NKRI

Berita Terbaru

Pemikiran

Tentang Gemah Ripah Loh Jinawi

Minggu, 23 Nov 2025 - 00:49 WIB