Masa Perundagian Pulau Bali, Mata Pencaharian Utama Pertanian Dan Peternakan

- Jurnalis

Senin, 29 April 2024

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

Berjalannya waktu membuat manusia semakin berkembang dalam pola pikir dan aktivias yang dilakukan.

Sehingga sangat berpengaruh terhadap karya yang dihasilkan dan peninggalan yang dijadikan bahan penelitian.

Pada masa neolithik manusia sudah bertempat tinggal tetap dalam kelompok-kelompok serta mengatur kehidupannya menurut kebutuhan.

Tetapi mata pencaharian dipusatkan kepada menghasilkan bahan makanan sendiri terutama pertanian dan peternakan.

Pada masa mengenal tempat tinggal tetap ini, manusia sudah berdaya dan berupaya meningkatkan kegiatan-kegiatannya .

Tujuannya yakni mencapai hasil yang sebesar-besarnya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.

Pada zaman ini jenis manusia yang mendiami Indonesia dapat diidentifikasi dari berbagai penemuan sisa-sisa rangka di berbagai tempat.

Temuan penting ini di antaranya adalah temuan-temuan dari Anyer Lor (Banten), Puger (Jawa Timur), Gilimanuk (Bali) dan Melolo (Sumbawa).

Dari temuan kerangka tersebut yang banyak jumlahnya menunjukkan ciri-ciri manusia pada zaman itu.

Penemuan di Gilimanuk dengan jumlah kerangka yang ditemukan 100 buah menunjukkan ciri Mongoloid yang kuat seperti terlihat pada gigi dan muka.

Pada rangka manusia Gilimanuk terlihat penyakit gigi dan encok yang banyak menyerang manusia pada saat itu.

Baca Juga :  Budaya Cirebon Yang Masih Lestari Hingga Sekarang, Memiliki Berbagai Jenis dan Waktu Pelaksanaan

Berdasarkan bukti-bukti yang ditemukan dapat diketahui bahwa masyarakat Bali pada masa perundagian sudah berkembang tradisi penguburan dengan cara-cara tertentu.

Adapun cara penguburan yang pertama ialah dengan mempergunakan peti mayat atau sarkofagus yang dibuat dari batu padas yang lunak atau yang keras.

Cara penguburannya ialah dengan mempergunakan tempayan yang dibuat dari tanah liat seperti ditemukan di tepi pantai Gilimanuk (Jembrana).

Benda-benda temuan ditempat ini ternyata cukup menarik perhatian di antaranya terdapat hampir 100 buah kerangka manusia dewasa dan anak-anak, dalam keadaan lengkap dan tidak lengkap.

Tradisi penguburan dengan tempayan juga ditemukan di Anyar (Banten), Sabbang (Sulawesi Selatan), Selayar, Rote dan Melolo (Sumba).

Bahkan juga terdeteksi di luar Indonesia, tradisi ini berkembang di Filipina, Thailand, Jepang dan Korea.

Kebudayaan megalithik merupakan kebudayaan yang terutama menghasilkan karya bangunan-bangunan dari batu-batu besar.

Batu-batu ini biasanya tidak dikerjakan secara halus, hanya diratakan secara kasar saja untuk mendapat bentuk yang diperlukan.

Khusus di daerah Bali tradisi megalithik masih tampak hidup dan berfungsi di dalam kehidupan masyarakat dewasa ini.

Adapun temuan yang penting ialah berupa batu berdiri (menhir) yang terdapat di Pura Ratu Gede Pancering Jagat di Trunyan.

Baca Juga :  China Menyarankan Iran Dan Pakistan Saling Menahan Diri, Timur Tengah Dalam Darurat Perang

Di pura in terdapat sebuah arca yang disebut arca Da Tonta yang memiliki ciri-ciri yang berasal dari masa tradisi megalithik. Arca ini tingginya hampir 4 meter.

Temuan lainnya ialah di Sembiran (Buleleng), yang terkenal sebagai desa Bali kuna, disamping desa-desa Trunyan dan Tenganan.

Tradisi megalithik di desa Sembiran dapat dilihat pada pura-pura yang dipuja penduduk setempat hingga dewasa ini.

Dari 20 buah pura ternyata 17 buah pura menunjukkan bentuk-bentuk megalithik dan pada umumnya dibuat sederhana sekali.

Di antaranya ada berbentuk teras berundak, batu berdiri dalam palinggih dan ada pula yang hanya merupakan susunan batu kali.

Temuan lainnya yang penting juga ialah berupa bangunan-bangunan megalithik yang terdapat di Gelgel (Klungkung).

Temuan yang penting di desa Gelgel ialah sebuah arca menhir yaitu terdapat di Pura Panataran Jro Agung.

Arca menhir ini dibuat dari batu dengan penonjolan kelamin wanita yang mengandung nilai-nilai keagamaan yang penting.

Mungkin dimaknakan sebagai lambang kesuburan yang dapat memberi kehidupan kepada masyarakat.

Sumber Berita : atmago

Berita Terkait

Realitas Sosial Di Gunung Kemukus Berada Diantara Sejarah, Mitos dan Salah Kaprah
Pemerintah DKI Tidak Mendukung Pagelaran Budaya, Anak Jalanan dan Kaum Proletar Merana
Apakah Ekspresi Ketidakpuasaan Sosial Sudah Dimulai Sejak Dulu Kala ?!
Renungan Malam Marhaenis, Kebangkitan Sang Tiran
Siwa Wajib Memahami Pancasila Karena Menjadi Bagian Ujian Nasional
Syair Marhaenis, Potret NKRI
Syair Marhaenis, Menjadi manusia Methodologis adalah panggilan Sejarah
Syair Nasionalis-Marhaenis, Gerakan Desukarnoisasi Yang Terstruktur dan Sistematis

Berita Terkait

Minggu, 10 Mei 2026 - 17:43 WIB

Realitas Sosial Di Gunung Kemukus Berada Diantara Sejarah, Mitos dan Salah Kaprah

Rabu, 3 Desember 2025 - 23:39 WIB

Pemerintah DKI Tidak Mendukung Pagelaran Budaya, Anak Jalanan dan Kaum Proletar Merana

Rabu, 17 September 2025 - 15:07 WIB

Apakah Ekspresi Ketidakpuasaan Sosial Sudah Dimulai Sejak Dulu Kala ?!

Minggu, 10 Agustus 2025 - 00:32 WIB

Renungan Malam Marhaenis, Kebangkitan Sang Tiran

Kamis, 31 Juli 2025 - 23:53 WIB

Siwa Wajib Memahami Pancasila Karena Menjadi Bagian Ujian Nasional

Berita Terbaru

Peristiwa

Peristiwa Film Pesta Babi dan Pestanya Para Babi 

Rabu, 13 Mei 2026 - 23:09 WIB