Pada Era Demokrasi terpimpin Rakyat Indonesia itu ada dan menjadi Konkret
Dikarenakan didalam Penemuan kembali jalannya Revolosi Indonesia telah dengan jelas dan gamblang dinyatakan oleh BUNG KARNO dalam Pidatonya pada peringatan HUT Republik Indonesia yang ke 14 pada tgl 17 Agustus tahun 1959.
Dimana Rakyat adalah BUDI NURANI KEMANUSIAAN.
Dan setelah Paduka yang mulia Pemimpin Besar REVOLOSI penyambung lidah rakyat Indonesia ini Mengalami Kesenjaan hidup dan kekuasaan berangsur angsur jatuh kegenggaman Suharto maka Rakyat konkret yang Telah ada Dan Menjadi itu, Eksistensinya ditiadakan namun ESENSINYA tetap dipertahankan namun Rakyat hanyalah dijadikan Sebagai HANTU SOSIAL POLITIK yang daripadanya Siap dijadikan JARGON dan Slogan.
Contoh banyak istilah yang di goreng goreng tentang si HANTU’ SOSIAL POLITIK ( RAKYAT) itu Misalnya ada Postulat yang berbunyi KESEJAHTERAAN RAKYAT Dan hal itu tidaklah mungkin Diwujudkan.
Dikatakan Kekuasaan melepaskan Hantu baru bernama Masyarakat untuk diadu domba Dengan RAKYAT.
Contohnya Postulat yang dilepaskan ke publik adalah KEBAHAGIAAN MASYARAKAT.
MASYARAKAT ADIL dan MAKMUR
Narasi ini bisa dikatakan sebagai Narasi yang manipulatif.
Dan jika ditinjau dari berfikir yang Filosofis dia adalah KEJAHATAN PUBLIK yang terstruktur sistematis dan Masif.
Yang dipertanyakan oleh seorang Filsuf sosial Indonesia bernama Joko Sukmono adalah “Apakah Presiden Republik Indonesia sekarang Prabowo Subianto itu memahami kondisi budaya SOSIAL POLITIK KRONIK seperti itu ?????…..”
Jika tidak ada yang memahami berartii Indonesia ini bukan Negara yang Konkret Namun sebuah Negara abstrak yang seluruh komponen maupun instrumennya adalah ILUSIF.
Inilah gambaran dari POTRET NKRI itu.
Djoko Sukmono
Badan Pendidikan dan Pelatihan
Gerakan Pemuda Nasionalis Marhaenis
( NASMAR )







