Jakarta, Di tengah gelombang demonstrasi yang mengguncang stabilitas nasional, Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (DPP GMNI) mengeluarkan “Seruan Pejuang Pemikir – Pemikir Pejuang”. Seruan ini menegaskan posisi GMNI untuk menjaga kemurnian perjuangan mahasiswa di tengah krisis sosial-ekonomi yang memuncak.
Gelombang unjuk rasa, yang telah berlangsung sejak akhir Agustus 2025, dipicu oleh kemarahan publik atas kenaikan tunjangan anggota DPR yang dinilai tidak peka terhadap meningkatnya biaya hidup.
Situasi makin memanas pasca tewasnya Affan Kurniawan (21), seorang pengemudi ojek online, yang meninggal akibat tertabrak kendaraan taktis polisi saat demonstrasi.
Tragedi ini memicu kerusuhan yang memakan lebih banyak korban dan menyulut amarah massa secara lebih luas.
Perjuangan Murni untuk Rakyat Marhaen
Ketua Umum DPP GMNI, Arjuna Putra Aldino, menegaskan bahwa perjuangan mahasiswa adalah cerminan dari hati nurani rakyat yang tak boleh dibungkam.
“Di tengah krisis kepercayaan, ketidakadilan, serta kebijakan yang membebani rakyat, GMNI berdiri bersama rakyat untuk memperjuangkan kepentingan rakyat Marhaen,” ujar Arjuna dalam pernyataan tertulisnya.
Senada, Sekretaris Jenderal DPP GMNI, M. Ageng Dendy S, menyampaikan bahwa seruan ini merupakan bentuk tanggung jawab ideologis.
“Kami ingin memastikan perjuangan mahasiswa tetap murni, tidak terjebak hasutan atau anarkisme, dan benar-benar fokus pada agenda besar perjuangan bangsa,” tegasnya.
Sikap Tegas GMNI untuk Kedaulatan Rakyat
Dalam seruannya, GMNI mengeluarkan tujuh tuntutan utama yang mencerminkan sikap tegas mereka terhadap situasi saat ini:
Menjaga Kemurnian Perjuangan GMNI menekankan pentingnya penyampaian aspirasi secara murni dan terarah, menjauhi provokasi dan tindakan anarkis.
Desakan Reformasi Polri:
GMNI mendesak reformasi menyeluruh terhadap Kepolisian Republik Indonesia (Polri) sebagai respons atas penanganan demonstrasi yang dinilai represif.
Pengawalan Kasus Affan Kurniawan:
GMNI berkomitmen untuk mengawal proses hukum atas meninggalnya Affan Kurniawan hingga tuntas dan menuntut keadilan bagi korban.
Tolak Kebijakan Militer:
GMNI dengan tegas menolak diberlakukannya kebijakan darurat militer dan mendesak pendekatan yang lebih preventif serta demokratis dalam menangani demonstrasi.
Perlawanan terhadap Oligarki Ekonomi
GMNI menyerukan perlawanan terhadap oligarki ekonomi yang dinilai telah merugikan rakyat.
Tuntutan Kebijakan Pro-Rakyat:
GMNI menuntut pengesahan undang-undang yang berpihak pada rakyat, pemulihan ekonomi melalui penciptaan lapangan kerja dan penguatan UMKM, serta pembentukan Satgas PHK buruh.
Sikap Tegas terhadap Pejabat Provokatif:
GMNI mendesak tindakan tegas terhadap pejabat publik yang dianggap provokatif dan tidak memiliki empati terhadap penderitaan rakyat.
Suara Mahasiswa adalah Penanda Arah Bangsa
GMNI percaya bahwa suara mahasiswa adalah penanda arah perubahan bangsa.
Oleh karena itu, GMNI mengajak seluruh kader dan elemen masyarakat untuk bersatu, menegakkan demokrasi, dan memastikan Indonesia tetap setia pada cita-cita proklamasi kemerdekaan.
Seruan ini adalah bukti bahwa GMNI siap menjadi garda terdepan dalam perjuangan rakyat.







