Ribuan massa aksi memadati jalan-jalan di Nusa Tenggara Barat pada hari ini. Aksi besar ini merupakan bagian dari gelombang protes nasional yang terjadi serentak di berbagai daerah. Massa menilai pemerintah semakin jauh dari kepentingan rakyat dengan berbagai kebijakan yang tidak adil, mulai dari kenaikan gaji DPR, pernyataan pejabat yang tidak pro rakyat, hingga tindakan represif aparat yang mengakibatkan korban jiwa di pusat.
Satya Ubhaya Sakti, Ketua DPC GMNI Kota Mataram yang turut hadir dalam aksi tersebut, menegaskan bahwa gerakan ini muncul secara organik dari keresahan masyarakat. “Aksi ini bukan digerakkan oleh kepentingan tertentu. Ini murni lahir dari kemarahan rakyat atas banyak persoalan bangsa yang menumpuk dan tidak kunjung diselesaikan oleh pemerintah,” tegasnya.
Aksi berlangsung dengan jumlah massa yang sangat besar dan mendapat atensi luas. Gelombang serupa juga terus terjadi di berbagai wilayah Indonesia. Menurut Satya, mahasiswa sebagai bagian dari masyarakat juga memikul tanggung jawab moral untuk menyampaikan keresahan bersama rakyat. “Kami sebagai mahasiswa tidak bisa diam. Presiden sebagai Kepala Pemerintah gagal berpihak kepada rakyat, melainkan berpihak kepada elit,” tambahnya.
Tuntutan yang disuarakan tetap sama seperti aksi sebelumnya bersama Kaukus Rakyat Melawan. Massa menuntut Presiden gagal sebagai kepala pemerintahan karena tidak mampu menjaga kestabilan di tingkat tapak, gagal memilih Kapolri karena tidak mampu menginstruksikan keselamatan massa aksi kepada anggotanya, mengadili secara tegas dan transparan oknum aparat yang menyebabkan hilangnya nyawa masyarakat, serta meninjau ulang kebijakan pemerintah yang dianggap tidak pro rakyat.
Aksi hari ini menunjukkan bahwa rakyat tidak lagi percaya pada jalan formal yang selama ini ditempuh. Pesan yang ingin disampaikan jelas: negara harus segera mengubah arah kebijakan dan kembali berpihak pada kepentingan rakyat.







