Saya JOKO Sukmono. Saya konsekuen sebagai orang Indonesia. Saya konsekuen sebagai seorang Marhaenis. Saya konsekuen sebagai Soekarnois. Saya konsekuen sebagai Pancasilais. Saya konsekuen dengan bahasa saya. Berbahasa Indonesia, saya konsekuen sebagai anak bangsa, bangsa Indonesia. Saya konsekuen bertanah air, tanah air Indonesia.
Saya konsekuen dengan budaya saya, yaitu budaya Nusantara. Sebagai anak manusia, saya belajar tentang berbagai budaya di dunia, tetapi identitas saya tetap INDONESIA. Budaya saya tetap budaya Nusantara. Budaya saya adalah gotong royong.
Sebagai orang Indonesia, saya memulai segala sesuatu dengan menggunakan bahasa Indonesia, misalnya salam: selamat pagi, selamat siang, selamat sore, selamat malam. Selain itu, sebagai kader Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (yang kini menjadi alumni), saya tetap konsekuen menyapa teman-teman dengan pekik “Merdeka!”.
Sebagai Marhaenis, saya konsekuen dengan ucapan “Hidup Rakyat!”. Sebagai Pancasilais, saya mengucapkan “Salam Pancasila!”. Jika konsekuensi seperti ini terus bertambah, bertumbuh, dan berkembang di negara bangsa Indonesia, maka perwujudan Pancasila sebagai budaya dasar bangsa akan menjadi konkret dalam kehidupan sehari-hari dengan semboyan: Saya Indonesia, Saya Pancasila, dan Kami Gotong Royong.
Namun, banyak pertanyaan muncul: Mengapa bangsa Indonesia semakin mengalami kemunduran mental? Mengapa mental bangsa ini semakin rapuh, semakin kehilangan karakter sebagai bangsa? Hal ini disebabkan pembangunan fisik yang tidak dibarengi dengan pembangunan karakter bangsa.
Soekarno pernah memimpin Asia-Afrika. Sukarno dikenang dunia abad ke-20 sebagai negarawan dunia. Ajarannya digunakan sebagai model desain politik di berbagai negara. Namun, di negaranya sendiri—tempat ia dibesarkan dan digembleng—ajaran-ajarannya malah diabaikan. Bahkan, pengorbanan Bung Karno sebagai pendiri bangsa ini cenderung dilupakan.
Kenapa? Hal ini disebabkan Karena beberapa faktor diantaranya
– Takut mati,
– Takut miskin,
– Takut-takut lainnya.
Inilah penyebab hilangnya pengaruh Bung Karno
Percaya kepada Pancasila 1 Juni tidak mau, karena takut dengan tentara (era Suharto). Akhirnya mengikuti Pancasila konsensus, karena apa? Takut.
Desoekarnoisasi terjadi karena para Soekarnois yang kekanak-kanakan dan penuh ketakutan. Mereka hanya mengikuti arus. Para Soekarnois ini hanya mampu menjual debu dan tulang belulang Bung Karno. Inilah kebangkrutan moral para Soekarnois.
Saat ini, jangan menyalahkan keadaan. Ayo kita bangun kembali moral Soekarnois yang konsekuen, yaitu moral pejuang dan pemikir. Dalam situasi ini, para pendukung Pancasila semakin prihatin, karena arah perubahan yang didorong oleh politisi-politisi konyol justru menuju:
1. Kebangkrutan moral bangsa.
2. Peniadaan Pancasila sebagai budaya dasar bangsa.
3. Pelapukan pilar-pilar negara.
4. Disintegrasi bangsa.
Jika Pancasila 1 Juni telah menjadi philosophical groundslag negara bangsa Indonesia, maka Pancasila 1 Juni wajib dijadikan dasar negara Republik Indonesia. Pancasila 1 Juni adalah ideologi negara bangsa Indonesia dan budaya dasar bangsa, yaitu gotong royong.
Pancasila 1 Juni adalah GOTONG ROYONG
Mohon perhatian, Kesepakatan itu rentan terhadap perubahan.
Pancasila dalam pembukaan UUD 1945 adalah Pancasila kesepakatan yang hanya berfungsi mengakomodasi kepentingan-kepentingan. Sedangkan Pancasila 1 Juni adalah Pancasila definitif yang sesuai dengan esensi bangsa.
Inilah Pancasila 1 Juni:
1. Kebangsaan Indonesia
2. Kemanusiaan
3. Mufakat
4. Keadilan Sosial
5. Ketuhanan yang berkebudayaan
Kelima sila ini, jika dikristalisasikan, menjadi Gotong Royong yakni
Pancasila adalah:
– Budaya dasar bangsa Indonesia.
– Ideologi negara Republik Indonesia.
– Pandangan hidup bangsa Indonesia.
– Dasar negara Republik Indonesia.
Sebagai budaya dasar bangsa, Pancasila diwujudkan dalam perilaku, seperti gotong royong. Sebagai ideologi negara, Pancasila adalah ide dasar bagi berdirinya Republik Indonesia. Sebagai pandangan hidup bangsa, Pancasila adalah kebenaran yang diakui masyarakat Indonesia. Sebagai dasar negara, Pancasila adalah landasan penyelenggaraan pemerintahan.
Hanya Pancasila yang benar dan definitif bagi negara Republik Indonesia dan seluruh rakyatnya.
Ada pesan ideologis dari Bung Karno, Pemimpin Besar Revolusi:
Inilah keyakinan saya dulu, dan itulah yang saya lihat di mana-mana. Tuntutan-tuntutan ini seperti ledakan abad ke-20, tetapi sebenarnya telah lama terkandung dalam kalbu. Tuntutan-tuntutan ini adalah pengejawantahan dari *budi nurani kemanusiaan.*
Penulis
Badan Pendidikan dan Pelatihan NASMAR









