Kita tidak sedang memperjuangkan siapa yang paling benar, melainkan bagaimana menjaga keberlangsungan ideologi yang diwariskan oleh Bung Karno dan para pendiri GMNI.
(M. Reza Ramadhan)
Mataram, 31 Juli 2025 – Kongres Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) yang baru saja diselenggarakan di Kota Bandung—alih-alih menjadi momentum konsolidasi ideologis dan penguatan organisasi—justru kembali mempertegas fragmentasi internal yang telah lama membayangi tubuh GMNI.
Fakta bahwa kongres tersebut menghasilkan dua figur Ketua Umum yang saling mengklaim legitimasi bukan hanya mencoreng semangat persatuan, namun juga menambah kabut pekat dalam arah perjuangan organisasi yang kita cintai bersama.
Sebagai kader yang diberikan mandat sebagai Kepala Bidang Politik serta Agitasi dan Propaganda DPC GMNI Kota Mataram, saya, Reza Ramadhan, menyatakan keprihatinan mendalam terhadap arah dan dinamika organisasi hari ini. Para pelaku dalam Kongres Bandung, secara sadar atau tidak, telah memperdalam luka kolektif kita—kader-kader yang terus mengabdi di garis ideologi marhaenisme dengan penuh dedikasi.
GMNI bukan milik satu kelompok, satu kubu, atau satu narasi saja. GMNI adalah rumah besar yang dibangun oleh sejarah panjang perjuangan, darah dan pikiran. Maka, ketika rumah ini mulai retak akibat ego, konflik kepentingan, dan ketidakdewasaan berorganisasi, maka menjadi kewajiban moral seluruh kader dan alumni untuk tidak tinggal diam.
Perpecahan ini harus diakhiri. Persatuan bukanlah opsi, melainkan harga mati. Kita tidak sedang memperjuangkan siapa yang paling benar, melainkan bagaimana menjaga keberlangsungan ideologi yang diwariskan oleh Bung Karno dan para pendiri GMNI. Jika rumah ini rusak, maka yang kalah adalah seluruh generasi masa depan yang kehilangan tempat untuk belajar, berpikir, dan berjuang secara dinamis.
Oleh karena itu, saya menyerukan: Mari kita hentikan pertikaian yang tidak produktif ini. Seluruh kader dan alumni GMNI—dimanapun berada—harus bersatu, duduk setara, dan kembali menjahit benang merah organisasi yang utuh dan bermartabat. Rekonsiliasi ideologis dan organisatoris adalah jalan satu-satunya untuk memulihkan marwah GMNI sebagai garda moral bangsa dan pemikir progresif.
Sudah cukup luka ini dibiarkan terbuka. Sudah saatnya kita menutup lembar konflik, dan membuka babak baru: GMNI yang bersatu, berpikir, dan bergerak untuk rakyat.
Penulis
M. Reza Ramadhan
Wakil Ketua Bidang Politik, Agitasi, dan Propaganda







