Gerakan pemberontakan melawan junta militer di Myanmar kembali masif.
Kabar Terbaru, sebuah jet tempur militer Myanmar ditembak jatuh.
Ini menandakan kemunduran lain bagi junta yang menghadapi tantangan terbesar terhadap pemerintahannya sejak kudeta pada 2021.
Dilansir Reuters, Senin (13/11/2023), jet tempur jatuh di atas Negara Bagian Kayah di Myanmar timur.
Berdekatan dengan perbatasan negara Thailand, pada akhir pekan lalu.
ketika pertempuran antara militer dan Pasukan Pertahanan Nasional Karenni (KNDF).
Mereka mengatakan pihaknya telah menembak jatuh pesawat tersebut.
Di laman Facebook-nya KNDF mengatakan bahwa mereka menembak jatuh jet tersebut.
Pada hari Sabtu menggunakan senapan mesin berat dan anggotanya sedang mencari pilotnya.
Sedangkan juru bicara Junta Zaw Min Tun mengatakan kepada MRTV yang dikelola pemerintah.
Bahwa jet jatuh karena masalah teknis dan pilot telah keluar dengan selamat serta melakukan kontak dengan militer.
Insiden terjadi ketika militer Myanmar memerangi pasukan oposisi di berbagai sektor.
Disaat pasukan etnis minoritas dan milisi anti-junta melancarkan pemberontakan.
Menurut para analis keamanan dilakukan dengan tingkat koordinasi yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Presiden yang dilantik oleh militer pekan lalu mengatakan Myanmar berisiko terpecah belah.
Hal ini disebabkan karena kegagalan membasmi pemberontakan secara lebih efektif.
Konflik di Negara Bagian Shan, berada di timur laut yang berbatasan dengan China.
Menyebabkan sedikitnya 50.000 orang mengungsi, dengan terputusnya jalur perdagangan.
Karena beberapa kota direbut sejak serangan anti-junta yang dilancarkan bulan lalu.
Oleh pemberontak etnis minoritas sebanyak tiga kelompok secara bersama sama.
China menyerukan semua pihak yang bertikai untuk menghentikan permusuhan.
Aliansi pemberontak menyiarkan bahwa telah merebut lebih dari 100 pos militer.
Penyerangan juga terjadi di wilayah Sagaing, di Myanmar tengah, sebelah barat Negara Bagian Shan.
Ratusan pekerja asingyang menurut aktivis hak asasi manusia adalah korban perdagangan manusia.
Mereka terjebak dalam pertempuran termasuk warga negara Vietnam dan Thailand.
Pada hari Sabtu Kementerian Luar Negeri Thailand mengatakan bahwa 200 warga negaranya sedang menunggu untuk dievakuasi “sesegera mungkin ketika situasi memungkinkan”, ujarnyaa.
Sumber Berita : Reuters









