Pembangunan nasional menjadi tanggung jawab semua pihak yang ada di Indonesia.
Bukan hanya dari kalangan instansi pemerintah maupun swasta namun juga organisasi masyarakat.
Ketua DPD RI AA LaNyalla Mahmud Mattalitti mengajak warga Muhammadiyah untuk mempunyai tekad bersama.
Khususnya dalam menghadapi tantangan dunia ke depan yang lebih berat karena diwarnai ketidakpastian,
Hal ini akibat ketegangan geopolitik kawasan, disrupsi teknologi dan disrupsi lingkungan.
“Tantangan-tantangan itu dampaknya bisa membuat negara mengalami krisis.
Oleh karena itu, perjalanan berbangsa dan bernegara ke depan harus dikawal dengan tekad bersama yang kuat,”
Diuacapkan LaNyalla saat memberikan pidato utama dalam Focus Group Discussion (FDG) yang digelar Lembaga Hikmah dan
Kebijakan Publik (LHKP) PW Muhammadiyah Jawa Timur, di Surabaya, Senin.
Dikatakan LaNyalla, tekad bersama itu hanya bisa dirajut melalui saluran dan sarana yang memberikan ruang kedaulatan kepada rakyat, sebagai pemilik negara ini.
Dalam sebuah ikatan yang mampu menyatukan. Mampu memberikan keadilan.
Dan mampu menjawab tantangan masa depan melalui jati diri bangsa ini.
“Itulah mengapa MPR harus kembali menjadi Lembaga Tertinggi Negara, yang diisi bukan saja oleh mereka yang dipilih melalui Pemilu Legislatif.
Tetapi juga mereka-mereka yang diutus dari bawah, yang meliputi semua elemen bangsa ini, tanpa ada yang ditinggalkan.
Sehingga benar-benar terwujud penjelmaan rakyat dan para hikmat, yang menentukan Arah Perjalanan Bangsa dengan satu tolok ukur mewujudkan Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia,” ujarnya.
Sebab, lanjutnya, sistem bernegara hasil Amendemen Konstitusi di tahun 1999 hingga 2002 itu telah menghasilkan Sistem Politik yang mahal.
Dan sistem politik yang mahal itu menghasilkan high-class economy, atau dengan kata lain, oligarki ekonomi untuk membiayai sistem politik yang mahal itu.
Dan oligarki itu kemudian mendikte Kebijakan dan sistem politik.
“Akibatnya, bangsa kita lambat laun menjadi bangsa lain. Akar budaya dan watak bangsa Indonesia perlahan tercerabut.
Dari bangsa yang integralistik, gotong-royong dan spiritualistik-patriotis, menjadi bangsa yang individualistik, kapitalistik dan materialistik-pragmatis.
Sehingga dalam dua dekade Reformasi, indikator ketidakadilan dalam wujud kesenjangan ekonomi dan sosial semakin tinggi,” tutur dia.
Karena secara teori, lanjutnya, kesenjangan dan ketidakadilan terhadap penguasaan ekonomi, penguasaan tanah, alat produksi, akses pendidikan dan akses kesehatan.
Faktor tersebut secara tidak langsung telah menghasilkan kemiskinan struktural yang sulit diselesaikan.
Dan jika jalan yang ditempuh hanya melalui subsidi dan bantuan sosial, maka akan terus menjadi beban Fiskal negara, yang pada suatu titik akan mengalami Fiskal akan default.
“Oleh karena itu harus ada jalan keluar. Agar pemerintah dapat terus membangun dan berdaulat, melalui dukungan rakyat yang kuat.
Dan dukungan rakyat yang kuat harus diwujudkan melalui sistem yang kembali kepada nilai-nilai Pancasila.
Yang membangun semangat kebersamaan, sesuai pikiran-pikiran para pendiri bangsa,” ucapnya.









