Bermainlah baik dengan kelompok atas juga bersama rakyat bawah,tetapi harus memahami batas ide dan selalu kritis dalam menentukan keputusan.
( Indra Aden )
Kecerdasan dan kepandaian seseorang bukan hanya dilihat pada seberapa banyaknya buku yang telah dibuat,seberapa banyaknya ia menjadi pembicara diberbagai acara seminar, tidak juga hebatnya ia memberikan kemenangan setiap debat.
Bahkan bukan juga sebagai pusat perhatian dari orang orang yang memujinya,semua hal diatas, hanya hal tampilan sementara setelah ia tak terpakai pada wilayah itu,hilanglah diri dari keberadaannya dimasa lalu.
Karena peristiwa tersebut memunculkan atas kemampuan diri, sebagai kesombongan, tak peduli pendapat pihak selain dirinya, menimbulkan kesombongan, merasa paling mampu.
Tipikal seperti ini, selalu duduk dengan kelas kelas elit, politisi juga Oligarkhi, memunculkan ketergantungan pada, membela ,sampai munculkan nilai nilai hidup merasa berkuasa, memandang enteng dan rendah diluar kubunya, bertingkah laku seperti mereka yang dibelanya. Sebab kedekatan dengan kekuasaan politik, uang serta tidak adanya kekritisan dilingkaran itu.
Semua berkata kata sesuai hanya kepentingan, supaya tak tergeser dari posisi posisi telah diraih, ke intelektualnya bersama kecerdasan dimiliki bergema lewat ide ide mengisi kebijakan elit, politisi dan oligarki demi kepopuleran serta kedekatan, soal isi dan hasil yang diresmikan urusan nanti.
Padahal kecerdasan yang ia miliki seharusnya bermanfaat bagi orang banyak atau berfaedah bagi yang membaca buku buku, seminar,diskusi baik lisan maupun tulusan membuat terbuka wawasan, memahami atas apa yang terjadi pada kasus kasus politik,ekonomi, budaya dan sosial baik lokal dan nasional, memberikan nilai nilai merangsang aktif akal,logika, sampai terbentuknya epistemologi (sistem berpikir) seseorang, sebab setiap kemampuan seorang cendekiawan sangat terbatas, dimanapun keberadaannya harus bertanggung jawab atas ilmu telah dikuasainya bermanfaat bagi masyarakat.
Paling penting atas semuanya adalah “jangan bermain kata tulisan serta lisan seolah olah memahami sesuatu,ingatlah setiap kemampuan ada keterbatasan, ketika kita berbicara diluar kemampuan kita maka kebodohan segera menampakan diri atas penyampai bahasan tersebut.
Generasi bangsa yang cerdas selalu melakukan tindakan yang konkrit dan tidak terjebak eksistensi yang justru menjerumuskan dirinya dan orang lain kedalam jurang yang bahkan tidak pernah dia pikirkan sebelumnya.
Penulis
Indra Aden
Pegiat Literasi Indonesia









