Jakarta — Perdebatan publik mengenai keberadaan kereta cepat Whoosh (Woos) kembali mengemuka setelah muncul sorotan bahwa proyek ini masih menimbulkan kerugian dan dinilai menyedot keuntungan PT Kereta Api Indonesia (KAI). Banyak kalangan menilai, tanpa solusi konkret, kondisi ini bisa berdampak pada kesehatan keuangan BUMN transportasi tersebut.
Menurut pengamat transportasi, salah satu akar persoalan kerugian Whoosh adalah tingkat okupansi penumpang yang belum stabil. Walaupun pada akhir pekan dan musim liburan jumlah penumpang meningkat, di hari-hari biasa kursi kereta masih banyak kosong. Hal ini menyebabkan pendapatan operasional belum sebanding dengan biaya investasi dan perawatan.
Solusi pertama yang ditawarkan adalah memperluas integrasi moda transportasi. Whoosh perlu terhubung secara langsung dengan jalur KRL, LRT, maupun transportasi darat lain agar penumpang dari berbagai daerah bisa mengaksesnya dengan mudah. Dengan begitu, pengguna transportasi publik tidak merasa repot harus berpindah moda.
Selain itu, penetapan tarif juga dinilai perlu disesuaikan. Harga tiket yang dianggap mahal masih menjadi penghalang bagi sebagian besar masyarakat. Penawaran tarif promo, paket langganan, hingga diskon khusus bagi pelajar atau pekerja dapat menjadi strategi menarik minat penumpang harian.
Dari sisi bisnis, kolaborasi dengan sektor pariwisata dapat menjadi jalan keluar. Paket perjalanan wisata yang memasukkan tiket Whoosh bersama destinasi populer bisa menciptakan nilai tambah. Cara ini diharapkan mampu meningkatkan okupansi terutama dari kalangan wisatawan domestik maupun mancanegara.
Tak hanya itu, diversifikasi sumber pendapatan juga perlu diperluas. Ruang komersial di stasiun dan layanan tambahan di dalam kereta bisa dikembangkan sebagai pusat bisnis baru, sehingga pendapatan tidak hanya bergantung pada penjualan tiket.
Pemerintah pun diminta untuk lebih aktif dalam memberikan insentif fiskal maupun dukungan kebijakan. Subsidi operasional di awal masa transisi dianggap penting agar beban keuangan KAI tidak semakin berat. Namun, subsidi ini harus disertai target yang jelas agar efisiensi tetap menjadi prioritas.
Di sisi lain, PT KAI sendiri perlu menerapkan sistem manajemen keuangan yang lebih transparan. Laporan keuangan terkait kereta cepat harus terbuka agar publik mengetahui kondisi riil dan tidak menimbulkan spekulasi. Transparansi akan memperkuat kepercayaan investor dan masyarakat.
Penting pula dilakukan evaluasi jangka panjang terkait proyeksi penumpang. Dengan data akurat dan riset mendalam, KAI bisa menentukan strategi bisnis yang lebih realistis, termasuk memperluas pasar korporat dengan menawarkan layanan khusus bagi perusahaan besar.
Dengan kombinasi solusi integrasi transportasi, strategi tarif, kolaborasi pariwisata, diversifikasi bisnis, dukungan pemerintah, dan manajemen yang transparan, diharapkan beban kerugian Whoosh dapat dikurangi. Jika langkah-langkah tersebut diterapkan konsisten, keberadaan kereta cepat tidak hanya menjadi kebanggaan nasional, tetapi juga memberi keuntungan berkelanjutan bagi PT KAI.







