Judul diatas diucapkan Winston Churcill, Perdana Mentri Inggris semasa Perang Dunia II. Ini merupakan semboyan nasionalisme yang dipegang hingga kini. Semboyan yang berarti “benar atau salah adalah negaraku”. Saya hanya mengabdi pada negaraku saja. Itu sih semboyan dan sikap yang dipegang pemimpin Inggris
Pimpinan memiliki pemahaman bahwa ia harus memimpin berdasarkan pengangkatan, dalam artian suka atau tidak suka bawahannya ia tetap menjadi orang yang memimpin suatu jabatan. Makna pemimpin adalah ia memimpin berdasarkan pengakuan oleh bawahan, dalam artian memang yang pantas memimpin.
Nah presiden itu merupakan pimpinan yg dipilih oleh sebagian rakyat, tapi berkuasa seolah olah untuk seluruh rakyat.
Oleh karenanya Pemimpin adalah komando tertinggi, maka pemimpin harus memiliki visi yang jelas dan tindakan yang tegas.
Hua hahahaha ha ha ha
Tidak…. Tidak dan tidak
Mereka tidak BERKUASA melainkan hanya menjalankan tugas sebagai Budak yang bersertratifikasi paling tinggi
Hanya sekali didalam sejarah pemimpin itu Hadir didalam kehidupan sosial manusia
Dan seluruh anak-anak manusia Masih menunggu dan menunggu
Tentang kapan dan dimana pemimpin itu TIBA, tidak bisa diramalkan dengan hitungan matematis
Pemimpin itu TIBA sebagai Manusia Konkret yang sesungguhnya.
Siapakah Pemimpin itu??
Pemimpin SUKU BANGSA MANUSIA adalah Manusia itu sendiri yang berasal dari Manusia
Tidak atas pilihan manipulatif berupa PEMILU
Juga tidak berdasarkan kepada Keturunan orang tertentu
Dan bukan Juga berdasarkan Klaim sebagai manusia pilihan Tuhan
Melainkan Pemimpin akan hadir didalam sejarah sebagai peristiwa Sejarah yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.
Ketika anak anak manusia ini berhadapan dengan Radikalisasi yang dilakukan oleh para Budak Budak Kekuasaan , adakah Radikalisasi itu diimbangi dengan Radikalisasi, ataukah ada jalan kompromi??
Ternyata Tidak….
Hal yang sedemikian itu dikarenakan adanya Pemasungan yang dilakukan oleh BUDAK BUDAK Kekuasaan sepanjang Sejarahnya.
Perlawanan Secara Physik tidaklah mungkin dilakukan oleh anak anak manusia yg sedang BERADA PADA POSISI Terpasung kebebasannya, meskipun Deklarasi tentang Kebebasan sudah digaungkan keseluruh Penjuru Dunia.
Sudah 80 th Sejak Deklaration Off Independen yang ditandai dengan Terbentuknya Perserikatan bangsa-bangsa, Namun Penjajahan diatas Dunia Masih terus berlangsung hingga saat ini di tahun 2025 ini.
KEBEBASAN Anak anak manusia Masih semu dikarenakan Kebebasan yang diberikan Masih kebebasan dibawah bayang-bayang Kekuasaan yang imperialistik.
RIGHT OR WRONG IS MY COUNTRY yang menggelora menyemangati anak anak Bangsa, apakah itu di Inggris, maupun di negara-negara yang lainnya didalam rangka Nasionalismenya, apakah di th 2025 ini Masih Urgent???
Ternyata tidak…..!!
Apakah yang Lebih penting saat ini, Nasionalisme ataukah Internasionalisme???
Keduanya sudah kehilangan makna, manakala tidak menimbulkan dampak yang signifikan bagi kehidupan sosial Generasi yang semakin cerdas.
Dari sedikit percikan percikan idealisme Nasionalisme maupun Internasionalisme itu dapatlah ditarik sebuah gambaran Bahwa Respon Free Generation menyatakan tidak mempedulikan lagi segala sesuatu yang berhubungan dengan POLITIK , IDIOLOGI, NEGARA, maupun Bentuk bentuk lainnya seperti Perserikatan bangsa-bangsa dikarenakan Free Generation beranggapan bahwa mereka tidak lain dan tidak bukan adalah EKSPRESI NISCAYA dari IMPERIALISME.
RASIO HISTORIS Memperingatkan kepada Perserikatan bangsa-bangsa dan Seluruh RAJA, PRESIDEN maupun PERDANA MENTRI Agar bergerak cepat didalam mengantisipasi terjadinya Peristiwa Sejarah yang bakal Melanda Dunia SOSIAL.
Sudah tidak ada gunanya lagi POLITIK
IDIOLOGI
NEGARA
Dan berbagai bentuk REJIM
SEJARAH tidak membutuhkan JARGON
SLOGAN
SIMBOL yang AHISTORIS
Sejarah tetap berjalan PADA REL Historisitasnya
Tidak dengan Cinta kasih
Solidaritas
Kekeluargaan
Dan pernyataan pernyataan ILUSIF yang lain, melainkan sejarah siap membakar seluruh Tujuan yang tidak berlandaskan kepada Hukum Rasional Sejarah.
Pergulatan esensialisme dengan Eksistensialisme
Esensialisme telah melakukan tugas dan fungsinya didalam kehidupan Sosial, Politik dan Idiologi
Kepercayaan kepada esensialisme telah Membentuk Karakter Zaman yang Rapuh
Sudah tidak ada gunanya lagi bersandar pada esensialisme
Marxisme sebagai ESENSI Telah menjadi terdampar pada situasi batas dan tidak mampu melanjutkan Dialetikanya
KAPITALISME sebagai ekspresi Niscaya dari Imperialisme Telah menggali kuburnya sendiri
Keduanya telah GAGAL Men-Dunia
Eksistensialisme
Eksistensialisme adalah doktrin yang menyatakan bahwa eksistensi mendahului esensi. Artinya, manusia pertama-tama ada, muncul, hadir di dunia ini, dan baru kemudian mendefinisikan dirinya. Tidak ada kodrat manusia yang telah ditentukan sebelumnya, tidak ada Tuhan yang merancang manusia dengan suatu tujuan tetap. Manusia dilempar ke dunia, tanpa alasan, tanpa pembenaran, dan hanya melalui tindakannya sendiri ia membentuk makna keberadaannya. Tidak ada nilai yang melekat pada dunia di luar yang diciptakan oleh manusia sendiri. Manusia bertanggung jawab penuh atas keberadaannya, karena melalui pilihan-pilihannya, ia tidak hanya menentukan dirinya sendiri, tetapi juga menyatakan suatu gambaran kemanusiaan.
Setiap putusan yang diambil manusia adalah putusan eksistensial sejauh ia sadar bahwa melalui pilihannya ia juga mengafirmasi sebuah nilai yang berlaku universal. Ketika seseorang memutuskan untuk tidak berkhianat, bukan karena perintah agama atau aturan sosial, tetapi karena ia secara sadar menilai bahwa kesetiaan adalah nilai yang hendak ia pertahankan dalam dunia yang absur—maka itulah putusan eksistensial. Begitu pula, seorang yang memilih untuk merawat ibunya daripada ikut perang, jika keputusannya lahir bukan dari rasa malu atau rasa takut, melainkan dari komitmen terhadap nilai-nilai hubungan manusiawi yang konkret, maka ia sedang menyatakan nilai kemanusiaan yang ia ingin lihat menjadi kenyataan. Tak ada moralitas objektif yang mendahului tindakan; moralitas lahir dari tindakan itu sendiri.
Namun kesadaran bahwa manusia adalah pencipta nilai sekaligus membuka jurang kegelisahan. Tanpa adanya Tuhan sebagai sumber nilai yang tetap, maka manusia sepenuhnya bebas—dan kebebasan ini bukanlah kebebasan yang nyaman, melainkan kebebasan yang menghukum. Kita ditinggalkan sendirian untuk menetapkan makna dunia. Tak ada alasan bagi kita untuk menolak tanggung jawab itu, karena justru dengan menolak, kita sudah membuat suatu pilihan. Dalam istilah saya, manusia dikutuk untuk bebas. Ia tidak meminta untuk ada, tetapi begitu ia ada, ia tidak bisa tidak memilih, dan karenanya tidak bisa tidak bertanggung jawab atas siapa dirinya.
Kebebasan, dalam eksistensialisme, bukanlah kemampuan untuk melakukan apa saja yang diinginkan, tetapi kondisi dasar dari eksistensi manusia. Manusia adalah kebebasan; ia adalah makhluk yang melampaui dirinya menuju proyek-proyek yang ia ciptakan. Tetapi sering kali manusia berusaha melarikan diri dari kebebasan ini melalui “mauvaise foi” atau itikad buruk—yakni ketika seseorang berpura-pura bahwa ia tidak bebas, bahwa tindakannya ditentukan oleh posisi sosial, oleh psikologi masa kecil, oleh norma-norma luar. Dalam itikad buruk, manusia menyangkal bahwa ia adalah pencipta makna, dan menyamarkan kebebasannya di balik topeng keharusan.
Meski kebebasan itu menakutkan dan membuat manusia mengalami kesepian metafisik, kebebasan jugalah yang memungkinkan keberanian, keautentikan, dan tanggung jawab. Dunia tanpa makna bukanlah kutukan, melainkan tantangan yang mengundang penciptaan. Manusia adalah proyek yang sadar akan dirinya, dan nilai-nilai yang dijalani manusia bukanlah penemuan, melainkan penciptaan melalui tindakan konkret. Maka, eksistensialisme bukanlah doktrin keputusasaan, melainkan etika tanggung jawab radikal. Dunia tidak punya arti kecuali yang kita ciptakan melalui keberanian untuk memilih, bertindak, dan mengafirmasi hidup tanpa jaminan.
Kepemimpinan sebagai Produk tertinggi dari esensialisme kini BERADA PADA POSISI ESENSINYA YANG ABSURD dan PARADOX
YANG Menjadi adalah Pemimpin yang dipersiapkan oleh sejarah didalam Peristiwa Sejarah
Dan Inilah Kemenangan EKSISTENSIAL Manusia Konkret Otentik yang sungguh sungguh ADA dan Sungguh sungguh MENJADI didalam Sejarah.
Penulis
Djoko Sukmono
Badan Pendidikan dan Pelatihan
Gerakan Pemuda Nasionalis Marhaenis
(NASMAR)









