Ada yang harus ada dan menjadi bernama Homo Deus dan Manusia Konkret.
Makhluk hidup yang menyerupai manusia itu bernama Homo Deus. Dia adalah makhluk hidup yang menganggap dirinya sebagai kekuasaan (negara adalah saya, saya adalah negara). Hukuman bagi makhluk hidup seperti ini adalah diseret ke ruang hukuman yang absurd, yakni dikutuk menjadi Sisyphus, dan yang menghukumnya adalah Manusia Konkret.
Homo Deus adalah esensi yang telah menjadi konstruksi pikiran hampir setiap anak manusia di muka bumi. Dia adalah dimensi etis, dia adalah dimensi religi, dia adalah kekuasaan yang melembaga (politik), dia adalah wahana yang melembaga bagi kehidupan sosial, ideologi, dan politik (negara).
Dia adalah kekayaan yang melimpah, dia adalah seluruh cita-cita yang telah menjadi teks dan yang terus-menerus diperjuangkan. Bahkan, api revolusi yang membakar dunia adalah akibat dari tindakan politik Homo Deus.
Namun, pada kenyataannya, mereka gagal. Hal ini terjadi karena selalu ada Manusia Konkret yang menanggulanginya.
Jalan sejarah bagi Homo Deus dan Manusia Konkret berada pada jalur yang sama, tetapi bergerak dari arah yang berlawanan.
Siapakah Homo Deus itu?
Siapakah Manusia Konkret itu?
Manusia Konkret telah melampaui Homo Economicus Kapitalisme. Manusia Konkret telah menjadi Homo Ludens (manusia yang berpanorama).
Namun, selama Homo Deus masih bercokol di muka bumi, eksistensi Manusia Konkret selalu terancam.
Langkah-langkah mitologis, mau tidak mau, harus ditempuh untuk menjadikan Homo Deus sebagai berhala yang diseret ke ruang hukuman yang absurd. Maka, ditorehkanlah sebuah epos yang bernama *Mite Sisyphus*.
Homo Deus sudah dikutuk, dan saat ini kutukan itu telah menjadi mitos bernama *Mite Sisyphus, di mana setiap hari ia memikul beban berat, mengangkat batu di pundaknya dari bawah gunung ke puncak setinggi 5.000 meter. Setelah sampai di puncak, batu itu dilepaskan kembali. Kemudian, *Sisyphus turun kembali, mengambil batu tersebut, dan memikulnya lagi ke puncak. Peristiwa itu terus diulang dan dijalankan dengan sukacita sepanjang masa.
Manusia Konkret adalah *Superman* yang disiapkan untuk menjadi *Diktator*.
Ketika momentum menjadi *Diktator* terwujud bagi Manusia Konkret, dan Homo Deus telah menjalani hukumannya sebagai Sisyphus, muncul sebuah misteri yang penuh tanda tanya:
Apakah Manusia Konkret akan stagnan sebagai Manusia Konkret semata?
Ataukah ada turunan dan kelanjutannya?
Atau justru ada kemungkinan bahwa turunannya menjadi Homo Deus yang lebih sempurna?
Hanya kepada *Hukum Rasional Sejarah*, seluruh anak manusia di muka bumi ini berserah.
Secara *psiko-sosial, peristiwa-peristiwa sosial membentuk suatu kondisi sosial tertentu yang dapat disebut sebagai **situasi sosial yang mampu menimbulkan Perubahan Sosial.
Penulis
Djoko Sukmono
Filsuf Sosial Indonesia









