Potret Situasi BATAS SOSIAL Yang Semakin Jauh Sebagai Manusia Konkret

- Jurnalis

Kamis, 23 Januari 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

Hari ini, ada seorang anak manusia sedang berjalan di sebatang jalan setapak untuk mempercepat tujuannya (dalam bahasa Jawa bernama NRABAS). Anak manusia ini telah muak dengan jalan raya yang telah tersedia karena di jalan raya itu terdapat momen-momen yang berseliweran, bergentayangan, mondar-mandir mencari mangsanya. Siapakah itu? Dia adalah agen-agen Dogma, dia adalah hantu-hantu sosial, dia adalah drakula-drakula politik, dia adalah komunis-komunis, dia adalah sosialis-sosialis, dia adalah neolib-neolib, dia adalah scrub-scrub kapitalis, dia adalah si konsumen-konsumen, dia adalah antek-antek sekuler yang hedonis.

Kemudian, di sebatang jalan setapak, anak manusia ini melihat dari sisi jalan raya itu dan menyaksikan suatu aktivitas yang sedang dilakukan oleh para penguasa jalan raya itu, dan terlihat dengan jelas segala dan semua tingkah laku para penguasa jalan raya tersebut.

Sebuah fragmen sedang berlangsung. Tiba-tiba, agen Dogma berteriak dengan lantang, “Hai anak-anak manusia, kembalilah kepada jalan yang benar, karena jalan yang kalian lalui itu adalah jalan yang tidak bertujuan.” Hemmmm… benar-benar IRONIS.

Beberapa saat kemudian, si hantu-hantu sosial berkata, “Jangan hiraukan agen Dogma KEPARAT itu karena mereka tidak memahami arti suatu PERJUANGAN. Ayo, hai anak-anak manusia, berjuanglah bersama kami… Ini kubekali perjuangan kalian semua dengan BERAS, BAJU, UANG.”

Berikutnya, para drakula politik menampakkan dirinya dengan gagah perkasa dan berkata, “Hai anak-anak manusia, di jalan raya ini perlu adanya pemeliharaan dan juga rasa aman, agar kalian semua lancar-lancar saja. Percayakan kepada kami untuk mengurusnya. Kami adalah pelayan kalian semua.” Dan di dalam hati para drakula politik tersenyum, “Dasar kalian semua adalah orang-orang bodoh. Hem… tunggu saja, nanti kalian semua pasti akan kami hisap darahnya.”

Mendadak, datanglah para komunis-komunis itu dan berkata, “Hai anak manusia, benda-benda ekonomi yang terhampar di muka bumi ini adalah milik kita bersama, dan yang terkandung di dalamnya juga milik kita, bahkan yang di udara. Sadarlah kalian semua bahwa selama ini kalian telah dieksploitasi oleh para borjuis kapitalis biadab itu. Apa yang telah kalian kerjakan selama ini adalah suatu penindasan yang terstruktur, sistematis, dan masif. Kalian telah dijadikan budak-budak oleh si binatang buas itu, dia adalah si kapitalis bangsat itu. Ayo lawan! Kobarkan revolusi dan peganglah ini, buku merah di tangan kirimu dan senjata di tangan kananmu. Kemudian, himpun kekuatan-kekuatan revolusioner untuk dihantamkan kepada si kapitalis bangsat itu sampai hancur lebur, dan kalian semua akan menjadi manusia-manusia sosial konkret tanpa adanya eksploitasi manusia oleh manusia.”

Baca Juga :  Pahlawan Indonesia Yang Berani dan Berhasil Melakukan Perlawanan Kepada Penjajah

Lihatlah itu, bergerombolnya para sosialis-sosialis dengan orasi yang damai, dengan kata-kata yang sejuk mengatakan, “Sudahlah, kita semua ini adalah saudara. Kita semua ini satu suku bangsa, yaitu suku bangsa manusia. Hendaklah kita semua saling menghormati satu sama lain, hendaklah kita saling bekerja sama satu dengan yang lainnya dengan dilandasi saling mencintai, saling memberi dan menerima. Kita ini dilahirkan sebagai manusia yang mempunyai hak yang sama. Marilah kita berbahagia bersama, sejahtera bersama dengan prinsip GOTONG ROYONG dalam rangka tercapainya suatu kemandirian.” Dan ternyata, para sosialis itu adalah salah satu bangsa yang mendiami bumi ini dan sudah mempunyai negara bernama Republik Indonesia. Pembicaraan diakhiri dengan kata-kata heroik… “Merdeka… Salam Pancasila.”

Akan tetapi dari arah berlawanan di jalan raya itu terlihatlah sebuah pawai besar-besaran dengan atribut yang mewah berupa berbagai kendaraan mewah dengan logistik yang melimpah ruah berjalan di sepanjang jalan raya itu tanpa mempedulikan si agen-agen Dogma, si hantu-hantu sosial, si drakula politik, si komunis-komunis, dan para sosialis-sosialis. Mereka tetap melenggang dengan santainya dan tampak juga para security yang gagah-gagah dan sehat-sehat, dan tentunya tampan yang siap secara elegan mengamankan para neolib-neolib.

Para neolib-neolib itu dalam berpawai besar-besaran disokong secara besar-besaran oleh sekrup-sekrup kapitalis, oleh para konsumen-konsumen yang konsekuen, dan oleh para sekularis yang hedonis. Inilah kekuatan besar yang sanggup mengharu-biru jalan raya itu, dan tanpa terlalu banyak narasi para neolib-neolib yang disokong antek-anteknya ini sanggup menghipnotis anak-anak manusia untuk menjadi akar rumputnya, karena yang dibawanya adalah… Manusia adalah kebebasan, ciptakanlah dirimu dengan bebas, jadilah manusia konkret otentik, dan rangkaikanlah tindakan-tindakan produktif dalam rangka ada dan menjadi. Jadilah apa saja sesuai dengan talenta dan kompetensimu, semuanya boleh.

Kemudian, anak manusia itu lelah karena derap langkah anak-anak manusia yang dilihatnya di jalan raya itu cukup kompleks dan membuat ia TERTIDUR.

Tiba-tiba, anak manusia ini terbangun dari tidurnya dan kemudian ia minum air putih yang ada di sungai kecil di sebelahnya, dan rasa lapar pun tak terelakkan lagi. Dengan sisa-sisa semangat, ia mencari apa saja yang ada di sekitarnya untuk dimakan, kemudian ia pun berjalan kembali namun arahnya menuju ke jalan raya itu dan bergabung dengan iring-iringan pawai besar para neolib itu. Dan ternyata, banyak sekali sisa-sisa makanan yang enak-enak yang terbuang sia-sia. Tanpa menunggu lebih lama, anak manusia ini mengambil sisa-sisa makanan itu dan memakannya dengan lahap… Sambil berkata dalam hati, “Hemmmm, enak sekali makanan-makanan ini padahal ini adalah makanan yang tersisa.”

Baca Juga :  Pendaftaran Beasiswa Karya Salemba Empat Khusus Bagi Mahaasiswa minimal Semester dua

Dalam keadaan sudah kenyang dan kekuatan sudah pulih, anak manusia ini yang tadinya muak dengan jalan raya itu akhirnya melanjutkan perjalanannya ke suatu tempat yang tadi telah direncanakan, yaitu suatu tujuan yang sebenarnya tidak ada. Karena sejauh apa pun melangkah masih tetap saja berada di muka bumi, setajam pemikiran tetap saja kemampuan berpikir itu hanyalah sebatas dunia yang ada. Dan apakah anak manusia ini masih terus melanjutkan perjalanannya? Ternyata saat ini anak manusia itu sudah jauh melangkah dan telah sampai di suatu tempat yang bernama SITUASI BATAS SOSIAL.

Potret Situasi BATAS SOSIAL

YANG BELUM TIBA itu bernama Manusia Konkret, sedangkan inisial yang mengklaim dirinya sebagai manusia itu belum menjadi manusia KONKRET, bahkan bukan manusia sama sekali. Karena untuk menjadi manusia membutuhkan proses yang panjang, cobalah mengerti, apakah manusia itu? Manusia ialah eksistensi yang beresensi. Eksistensi adalah dasar kesungguhan dari keberadaan manusia, esensi adalah dasar kemungkinan dari keberadaan manusia. Dengan demikian, di dalam men-dunia, dapatlah manusia didefinisikan sebagai berikut: Manusia adalah dimensi yang multi kompleks, konkret, dan individual, hidup di dalam ruang dan waktu, berada pada posisi esensinya, bergerak pada situasi batas sosialnya yang utuh sebagai eksistensi yang otentik. Dengan yang sedemikian itu, apakah manusia konkret itu sudah ada? Jawabnya adalah BELUM MENJADI. Sampai kapan manusia konkret itu tiba? Inilah pertanyaan-pertanyaan fundamental tentang manusia konkret itu, yang konkret di dalam ruang dan waktu, yang konkret berada pada situasi batas jalan sejarah, sebuah renungan tentang manusia KONKRET.

Kemudian pada hari ini, anak-anak manusia sedang BERADA PADA SITUASI BATAS SOSIAL yang tidak pernah bisa dipahami.

 

Penulis

DJOKO SUKMONO

Alumni GMNI Jember

Berita Terkait

Kemiskinan Berdasarkan Data dan Angka Beserta Dampak Sosial di Indonesia
Perempuan Inspiratif Dari Situbondo Yang Mengabdi di Dunia Pendidikan dan Sepak Bola Demi Prestasi Generasi Bangsa
Kongres Bandung Bukan Solusi, Saatnya GMNI Kembali ke Jalan Persatuan
Evaluasi Kritis FA GMNI Dalam Menyikapi Kongres GMNI di Bandung Yang Berjalan Selama 12 hari, Deadlock Menjadi Win – Win Solution
History Marhaenisme, Manusia KONKRET Adalah Manusia METHODOLOGIS Yang BERDIKARI
Kehendak Politik Internasional Mempengaruhi Ekonomi dan Sosial Negara Berkembang
Rasio Historis Pada Peradaban Baru
Soekarno dan Islam, Sebuah Hubungan Personal, Ideologis dan Politik

Berita Terkait

Kamis, 11 September 2025 - 23:39 WIB

Kemiskinan Berdasarkan Data dan Angka Beserta Dampak Sosial di Indonesia

Selasa, 12 Agustus 2025 - 17:15 WIB

Perempuan Inspiratif Dari Situbondo Yang Mengabdi di Dunia Pendidikan dan Sepak Bola Demi Prestasi Generasi Bangsa

Jumat, 1 Agustus 2025 - 22:50 WIB

Kongres Bandung Bukan Solusi, Saatnya GMNI Kembali ke Jalan Persatuan

Sabtu, 26 Juli 2025 - 23:28 WIB

Evaluasi Kritis FA GMNI Dalam Menyikapi Kongres GMNI di Bandung Yang Berjalan Selama 12 hari, Deadlock Menjadi Win – Win Solution

Sabtu, 12 Juli 2025 - 23:16 WIB

History Marhaenisme, Manusia KONKRET Adalah Manusia METHODOLOGIS Yang BERDIKARI

Berita Terbaru