Kebutuhan rumah tangga dipengaruhi oleh besar kecilnya komoditas yang dipakai sehari hari.
Ketika harga barang di pasar naik maka uang belanja juga akan mengalami kenaikan yang sama.
Beberapa bulan yang lalu Indonesia dihebohkan dengan tingginya harga minyak goreng sehingga mempengaruhi harga makanan jadi.
Menteri Perdagangan, Zulkifli Hasan, mengusulkan kenaikan harga eceran tertinggi (HET) minyak goreng bersubsidi berlabel MinyaKita.
Seperti diketahui bersama bahwa saat ini HET MinyaKita tercatat senilai Rp14.00 per liter.
“Kami akan rapat untuk menyepakati harga MinyaKita naik Rp1.500 menjadi Rp15.500 per liter,” ujarnya, Rabu (19/6/2024).
Menurut Zulhas, rencana kenaikan harga minyak goreng yang akan ditetapkan ini bukan tanpa alasan.
Pihak Mendag juga menyatakan harga-harga komoditas pangan lain sudah mengalami kenaikan.
Apalagi dengan melonjaknya biaya produksi minyak goreng. “Harga beras di pasar, misalnya, sudah naik sekitar Rp1.600 per kilogram,” ucapnya.
Turunnya nilai rupiah terhadap dolar AS juga menurut Zulhas sebagai alasan untuk menaikkan harga MinyaKita. “Jika tidak disesuaikan, kita akan kewalahan,” ucapnya.
Meski begitu, Mendag menjamin harga eceran MinyaKita tidak akan setinggi harga minyak goreng premium. “Tidak akan semahal itu,” ujarnya.
Kabar ini membuat heboh kalangan ibu rumah tangga yang setiap hari belanja berbagai kebutuhan dipasar.
Karena minyak goreng menjadi kebutuhan utama untuk memasak beraneka makanan yang disajikan.







