Catatan Harian Djoko Sukmono, Transformasi Sosial dan Realitas Konkret

- Jurnalis

Senin, 27 Januari 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto Djoko Sukmono bersama keluarga

Foto Djoko Sukmono bersama keluarga

 

Fakta sejarah menyatakan bahwa sebuah peristiwa ditentukan oleh transformasi (pemindahan) sosial. Pemindahan sosial itu bentuknya berupa INFORMASI GLOBAL yang digerakkan oleh kekuasaan dengan instrumennya yang komplet. Artinya, instrumen tersebut mampu menembus seluruh pelosok BUMI, menembus setiap jiwa anak-anak manusia yang hidup dalam kehidupan sosial manusia secara keseluruhan.

Keseluruhan sebagai realitas konkret telah tampak dalam bagian-bagian realitas konkret sampai kepada unsur-unsur terkecil yang berbentuk seluruh kerangka berpikir, bentuk-bentuk bahasa, dan bentuk-bentuk perilaku dari setiap individu yang tinggal di muka bumi.

Gold, Gospel, War, Glory, and Victory adalah semboyan HOMO ECONOMICUS CAPITALISM dalam membangun KERAJAAN MATERIAL di muka bumi. Dunia telah BERADA PADA POSISI EKSISTENSINYA. Dunia telah menjadi miliknya. Dunia telah BERADA PADA POSISI ESENSINYA YANG TERGENGGAM ERAT. Dunia telah tergembok oleh kapitalisme. Dunia telah menyerah tanpa syarat kepada si binatang buas yang perkasa dan tahan banting itu. Mereka telah memiliki segala sumber daya. Mereka telah menyulam konstruksi sosial, konstruksi pikiran, dan terus-menerus menyebarkan virus mental dengan melepaskan hantu sosial dan DRAKULA POLITIK yang andal dan akurat.

Sudah tidak ada peluang yang terbuka untuk melawannya, meskipun itu hanya selubang jarum pun. Sukarno dikalahkan olehnya. Uni Soviet dibubarkan olehnya. Yugoslavia dihancurkan olehnya. Rusia saat ini BERADA PADA POSISI ESENSINYA YANG DISORIENTATIF terhadap realitas sosial dirinya, bahkan BERADA DI UJUNG TANDUK. Republik Rakyat Tiongkok sedang mengalami “post-delivered,” yaitu tertutupnya kran distribusi produksi. Timur Tengah sedang BERADA PADA POSISI EKSISTENSINYA YANG RETAK.

REZIM INDUSTRI merobohkan seluruh rezim yang ada di muka bumi. REZIM POLITIK segera melebur menjadi satu dengan REZIM INDUSTRI. REZIM KEBUDAYAAN telah terkoreksi oleh REZIM PERADABAN. Bagi rezim yang masih bangga dengan prestasi masa lalu dan masih menatap masa lalu, maka rezim tersebut akan segera AMBRUK. REZIM INDUSTRI, POLITIK, dan REZIM PERADABAN telah meninggalkan konstruksi sosial maupun struktur sosial yang telah usang dan tidak becus. Inilah HUKUM RASIONAL PERUBAHAN.

Fakta historis ini menarik karena ia adalah faktual. Sudah tidak berguna lagi menyatakan bahwa informasi global ini adalah imperialisme, tidak ada gunanya lagi komentar menyalahkan keadaan, toh informasi global terus bergerak dalam rangka memenuhi kehendak sejarah manusia di dalam proses perjalanan menuju tempat berlabuhnya seluruh anak-anak manusia pada sebuah koloni yang bernama Kerajaan Material Dunia. Dunia ini adalah ciptaan sejarah manusia yang otentik, dunia bukan ciptaan ilusi melainkan ciptaan Hukum Rasional Perubahan. Siapa pun yang menyangkal ini sudah dapat dipastikan mereka adalah kelompok AHISTORIS yang segera dilupakan sejarah.

Baca Juga :  Hari Lahir Pancasila Menghendaki Semangat kebangsaan Yang Berkeadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia

Apakah presiden, perdana menteri, maupun raja di dunia ini bisa dijadikan panutan? Tidak. Apakah tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh kebudayaan, maupun tokoh-tokoh sosial lainnya juga bisa dijadikan panutan? Tidak. Anak-anak manusia sudah tidak membutuhkan panutan lagi. Hal itu dikarenakan para panutan yang pernah berpengaruh di dunia ini sudah dinyatakan usang dan tidak becus karena mereka adalah PEMBOHONG.

Anak-anak manusia sebagai pemilik masa depan telah menyadari bahwa kehidupan sosial manusia ke depan itu sudah tidak lagi berdasar kepada keyakinan, kepada tokoh, kepada nilai-nilai fundamental kemanusiaan seperti keadilan sosial maupun kesejahteraan sosial, melainkan berdasarkan proses sejarah yang secara faktual bernama KEBEBASAN. Manusia adalah kebebasan. Manusia menciptakan dirinya sendiri dengan BEBAS dengan menyadari sepenuhnya eksistensinya sebagai manusia dalam kerangka TRANS-HISTORISITAS.

Sebuah potret transformasi sosial yang terkemas dalam informasi global yang berinfiltrasi di dalam proses kehidupan sosial manusia yang tinggal di muka bumi adalah sebagai berikut: Sang Narator Berkata bahwa di ERA INFORMASI GLOBAL ini segala bentuk informasi yang disinformatif otomatis akan ditinggalkan oleh pergerakan informasi baru yang lebih komplet, konkret, dan realistis objektif.

Kerangka-kerangka berpikir lama sudah tidak lagi memadai dalam memahami fenomena yang ada saat ini. Hal tersebut dikarenakan kerangka berpikir itu hanya sampai kepada situasi BATAS SOSIAL dari SUATU ERA (keterbatasan kepastian rasional).

Kesadaran trans-historisitas adalah cara berpikir dan cara pandang membebaskan rasio dalam membangun kerangka berpikir dan menentukan metodologi baru yang memadai dalam memahami fenomena yang ada dan menjadi.

Fenomena yang ada pada suatu era yang sudah LAPUK tidaklah mungkin terus-menerus dijadikan sebagai informasi. Hal yang sedemikian dikarenakan ia sudah disinformatif. Informasi adalah suatu era yang tak terbayangkan sebelumnya dan darinya mampu memicu perubahan sosial yang cepat. Inilah yang dinamakan REVOLUSI INFORMASI yang kekuatannya melampaui revolusi-revolusi yang pernah terjadi di dunia.

Tentang apa yang terjadi di masa depan dengan era informasi saat ini tidak dapat diprediksi. Era informasi ini adalah REVOLUSI GLOBAL yang dengan sengaja digerakkan oleh konektivitas sosial dan kesadaran sosial. Sedangkan paradigma yang mewarnai era lama sudah terhempaskan dengan sendirinya dan terhapus oleh gerak era informasi yang kekuatannya melampaui batas yang tak terbayangkan.

Baca Juga :  Catatan Harian Djoko Sukmono, Sebuah Orde Yang LAPUK

Sebuah Gambaran tentang Kondisi Obyektif Psikologis Masyarakat Bangsa Manusia yang Sedang Berlangsung di Era Informasi Global:

Ditempat itu, narator sedang menjelajah ruang dan waktu, terdampar di sebuah situasi batas yang misterius. Dengan segala kekuatan yang dimiliki, ia menerobos situasi ruang dan waktu tersebut hingga akhirnya berada pada posisi esensinya, yaitu tempat yang berada di luar ruang dan waktu.

Dengan penuh kegundahan, sang narator menuliskan hal yang selama ribuan tahun menjadi misteri tak terpecahkan secara sosiologis, yaitu tentang surga dan neraka.

Narator melihat dengan jelas segala sesuatu yang terjadi di ruang dan waktu itu. Di dalamnya, terdapat kejadian menggelikan berupa pertentangan berbagai pendapat. Ada yang mengatasnamakan Tuhan dan manusia pilihan, agama dan kebudayaan, ideologi, nilai-nilai fundamental kemanusiaan seperti kebebasan, keadilan, dan kesejahteraan, hingga sains dan teknologi.

Sementara itu, kegaduhan instruksional menciptakan kekacauan dalam pola pikir, pola bicara, dan pola bersikap yang cenderung skeptis. Sifat dan sikap seperti itu telah menjadi budaya yang ironis. Itulah dunia di dalam ruang dan waktu tersebut, terlingkupi oleh misteri tak terjawab selama ribuan tahun, yang berdampak pada setiap pengambilan keputusan.

Keputusan yang diambil biasanya bersumber dari situasi kronis—dibayangi ketakutan dan keraguan—dan menghasilkan paradoks. Hal semacam ini cenderung dilakukan oleh sebagian besar manusia.

Konstruksi pikiran yang terkooptasi dan terkontaminasi budaya dalam ruang dan waktu itu telah membentuk jiwa sebagian besar manusia yang hidup di sana. Dalam proses interaksi sosialnya, mereka berada pada posisi esensinya yang kronis.

Ilustrasi:
Ada pula istilah yang sebenarnya merupakan kebohongan, seperti berita bohong dari surga yang menyatakan bahwa seseorang seperti Joko Sukmono harus dimasukkan ke neraka karena dianggap kafir. Dua malaikat menyeretnya ke neraka, tetapi tiba-tiba angin kencang dari surga menghantam kedua malaikat itu. Joko Sukmono terhempas ke masa depan, langsung duduk di kereta kencana, ditemani dua bidadari surga yang memanjakannya. Apa pun yang diminta Joko diberikan, termasuk sesuatu yang paling indah dari para bidadari. Mungkin itulah yang disebut surga dan kehidupan nyaman di sana. Singkat cerita, kedua malaikat tadi justru masuk ke neraka.

Demikian informasi saya. Percaya atau tidak, terserah Anda.

Sebuah renungan filosofis dari seorang narator.

Penulis
Joko Sukmono

Alumni GMNI Jember

Berita Terkait

DPP GMNI Dukung Langkah Ekspansi Danantara Terhadap Perusahaan Ojol, Siap Kawal Pelaksanaan Perpres No 27 Tahun 2026
Kemiskinan Berdasarkan Data dan Angka Beserta Dampak Sosial di Indonesia
Perempuan Inspiratif Dari Situbondo Yang Mengabdi di Dunia Pendidikan dan Sepak Bola Demi Prestasi Generasi Bangsa
Kongres Bandung Bukan Solusi, Saatnya GMNI Kembali ke Jalan Persatuan
Evaluasi Kritis FA GMNI Dalam Menyikapi Kongres GMNI di Bandung Yang Berjalan Selama 12 hari, Deadlock Menjadi Win – Win Solution
History Marhaenisme, Manusia KONKRET Adalah Manusia METHODOLOGIS Yang BERDIKARI
Kehendak Politik Internasional Mempengaruhi Ekonomi dan Sosial Negara Berkembang
Rasio Historis Pada Peradaban Baru

Berita Terkait

Kamis, 11 September 2025 - 23:39 WIB

Kemiskinan Berdasarkan Data dan Angka Beserta Dampak Sosial di Indonesia

Selasa, 12 Agustus 2025 - 17:15 WIB

Perempuan Inspiratif Dari Situbondo Yang Mengabdi di Dunia Pendidikan dan Sepak Bola Demi Prestasi Generasi Bangsa

Jumat, 1 Agustus 2025 - 22:50 WIB

Kongres Bandung Bukan Solusi, Saatnya GMNI Kembali ke Jalan Persatuan

Sabtu, 26 Juli 2025 - 23:28 WIB

Evaluasi Kritis FA GMNI Dalam Menyikapi Kongres GMNI di Bandung Yang Berjalan Selama 12 hari, Deadlock Menjadi Win – Win Solution

Sabtu, 12 Juli 2025 - 23:16 WIB

History Marhaenisme, Manusia KONKRET Adalah Manusia METHODOLOGIS Yang BERDIKARI

Berita Terbaru

Peristiwa

Peristiwa Film Pesta Babi dan Pestanya Para Babi 

Rabu, 13 Mei 2026 - 23:09 WIB