Manusia sejarah adalah manusia *konkret*. Dia adalah manusia hari ini, manusia yang tidak terperangkap oleh masa lalu yang abu-abu. Dia adalah manusia bahagia yang terus memandang masa depan yang indah.
Masa depan yang tiada berbatas itu, bagi manusia sejarah, adalah keabadian yang harus dimiliki dan diwujudkan secara konkret di dunia.
Keabadian yang telah konkret merupakan sebuah proses historis yang menampakkan dirinya sebagai kebahagiaan masyarakat.
Kebahagiaan masyarakat sering kali dirusak oleh “malaikat sejarah,” yang dengan kekuatan mistisnya mampu membawa sebagian anak-anak manusia kepada masa lalu yang tidak dapat dijelaskan secara logis dan realistis.
Tidak ada bukti signifikan bahwa masa lalu itu adalah suatu realitas. Hal ini disebabkan oleh cara pandang yang tidak berdasarkan bukti otentik dan bahkan tanpa dasar logis maupun empiris.
Masa lalu adalah persepsi, sedangkan masa depan adalah prediksi. Jika anak-anak manusia lebih condong kepada masa lalu yang mempesona, maka mereka adalah orang-orang yang jatuh ke dalam kehidupan yang ilusif dan menjadi pengikut malaikat sejarah.
Pilihan itu berpulang kepada masing-masing individu, namun akibatnya mereka menjadi batu sandungan bagi kemajuan. Kemajuan selalu berorientasi ke depan dengan pijakan masa kini.
Menjadi manusia lebih mulia daripada menjadi malaikat. Secara empiris, manusia itu ada, sedangkan malaikat tidak dapat dibuktikan secara empiris. Malaikat hanyalah konsep dalam struktur pikiran, menjadi pandangan bagi orang-orang yang tersihir oleh ajaran masa lalu dan mengabaikan kondisi objektif saat ini.
Oleh karena itu, manusia sejarah adalah manusia *konkret* dan autentik di muka bumi, bergerak cepat seiring perkembangan sains dan teknologi.
Manusia *konkret* berkata: “Abaikan saja si malaikat sejarah, yang keberadaannya tidak dapat dibuktikan dengan metodologi ilmiah. Anggap saja dia tidak ada, dan hapus dari memori—dalam bahasa digital disebut sampah.”
Inilah manusia *konkret*:
Dia tidak dimengerti oleh zamannya.
Dia berada pada posisi esensinya yang trans-filosofis, trans-historis, dan trans-ideologis.
Dia sungguh-sungguh ada sebagai eksistensi yang autentik.
Ia tidak berada di bawah pengaruh dimensi waktu.
Manusia *konkret* adalah manusia yang berdikari, yakni manusia yang mampu menghidupi dirinya sendiri dan melindungi dirinya sendiri dalam *men-Dunia*.
Jika ada makhluk yang secara fisik menyerupai manusia tetapi tidak berdikari, maka mereka bukan manusia. Demikian pula, makhluk yang secara fisik menyerupai manusia tetapi berjuang menuju keberdikarian adalah dalam proses menjadi manusia *konkret*. Namun, jutaan makhluk yang secara fisik menyerupai manusia tetapi terjerat oleh dogma budaya berupa kebenaran dan kebaikan yang kaku hanyalah kawanan makhluk hidup menyerupai manusia tanpa menjadi manusia *konkret*.
Bagaimana dengan kondisi objektif masyarakat di Indonesia? Apakah sudah ada manusia *konkret*? Silakan cari sendiri jawabannya.
Tidak ada alasan untuk membenci orang lain karena perbedaan ras, suku, atau agama. Setiap individu manusia *konkret* adalah unik dan menjadi dirinya sendiri.
Orde deterministik dan hegemonik telah berlangsung ratusan bahkan ribuan tahun, tetapi manfaatnya belum dirasakan bagi kebahagiaan manusia *konkret* maupun masyarakat. Justru, perbedaan semakin meruncing. Padahal, perbedaan adalah keniscayaan yang menjadikan dunia bergairah dan dinamis.
Struktur sosial di Indonesia rentan terhadap perubahan sosial. Konstruksi sosialnya pun demikian, disebabkan oleh ketidakmampuan dalam mengorganisasikan diri. Ini disebut disorientasi organisasi, yang tampak dalam disharmoni.
Indonesia dihebohkan oleh makhluk hidup yang menyerupai manusia, tetapi mereka belum menjadi manusia *konkret*. Akibatnya, mereka seperti hantu gentayangan. Hal ini terjadi karena hidup mereka berada dalam esensi yang absurd. Mereka hanya menjalani hidup dengan keyakinan tanpa keberadaan nyata, menyerahkan moral mereka pada *moral kawanan*.
Secara Revolusioner, Indonesia sebagai negara-bangsa akan menjadi milik manusia *konkret* yang mampu mewujudkan kesejahteraan dan keadilan sosial secara nyata.
Menjadi manusia *konkret* berarti berdikari—menghidupi diri, melindungi diri, dan membangun relasi dengan dunia. Ketika manusia *konkret* benar-benar ada, daripadanya lahir individu dan masyarakat konkret, yang tidak mengingkari keberadaannya.
Menjadi manusia *konkret* lebih penting dan mulia daripada mendambakan kemanusiaan.
Nilai-nilai fundamental kemanusiaan yang selama ratusan tahun diajarkan hanyalah ilusi, membelenggu kebebasan manusia *konkret* dalam *men-Dunia*. Ketika nasionalisme memudar atau negara-bangsa bubar, jalan sejarah manusia *konkret* tetap tersedia.
Manusia *konkret* mampu bernegara secara nyata. Mereka membangun struktur dan konstruksi sosial tanpa manipulasi.
Ketidakhadiran manusia *konkret* hanya menyebabkan disorientasi dalam segala bentuk struktur dan konstruksi sosial.
Saat ini, Indonesia sedang berada pada posisi esensinya yang disorientatif. Namun, Hukum Rasional Sejarah kini berada dalam genggaman manusia *konkret*.
Penulis
Djoko Sukmono
Alumni GMNI Jember









