Djoko Sukmono, Paradigma Politik dan Demarkasi Pemikiran Bung Karno

- Jurnalis

Senin, 20 Januari 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ketika hari panas terik, matahari bersinar terang benderang, memancarkan cahaya kehidupan. Saya dan teman-teman seperjuangan terinspirasi oleh Nietzsche dengan pemikiran yang jelas, gamblang, dan bebas.

Segala sesuatu yang menghalangi keberadaan manusia yang otentik ditiadakan. Tak peduli itu setan, tak peduli itu malaikat, bahkan Tuhan pun ditiadakan jika nyata-nyata menjadi penghalang dan menjebak keberadaan manusia dalam bereksistensi.

Dengan penuh keberanian, sang filsuf meremukkan apa saja dan siapa saja yang menggagalkan eksistensi manusia.

*”Berfilsafat dengan Palu,”* inilah pernyataan provokatif dari sang filsuf. Yang ditemukan pertama kali adalah pancang-pancang kebenaran dan kebaikan; kemudian, kepalsuannya dihantamkan kepada orang-orang yang tersihir oleh candu ideologi yang ilusif. Pernyataan provokatif berikutnya adalah: *”Jadilah besar seperti Superman,”* yang hanya memiliki satu moral, yaitu moral tuan. Bunuh dan tiadakan segala sesuatu yang menghalangi kehendakmu untuk berkuasa.

Demikianlah bahasa provokatif dari Nietzsche yang kesohor itu. Ada sebuah ilustrasi yang bisa diambil hikmahnya sebagai berikut:

Baca Juga :  Kegiatan Hardiknas Sesudah Upacara Bendera, Bisa Melibatkan Banyak Pihak Agar Suasana Semakin Menyala

Ada Lenin, Trotsky, Leo Tolstoy, dan Stalin. Dari keempat tokoh pencetus Revolusi Bolshevik ini, mereka adalah pribadi-pribadi yang kuat dalam memegang prinsip masing-masing. Keempat tokoh tersebut sepakat bahwa Lenin dijadikan pemimpin (Ketua Polit Biro), Stalin sebagai wakilnya, sedangkan Trotsky bertugas di Presidium bersama Leo Tolstoy.

Kemudian, keputusan politik menempatkan Lenin sebagai pemimpin UUSR (Uni Sovyet Sosialis Republik). Lenin kemudian digantikan oleh Stalin pada tahun 1924 karena Lenin wafat.

Pergerakan Uni Sovyet terus berjalan di bawah pemimpin UUSR yang dianggap ideal sesuai dengan keyakinan Marxisme. Namun, kekerasan hati Stalin memicu protes internal dari Trotsky dan Leo Tolstoy terhadapnya. Keduanya menganggap Stalin telah menyimpang dari Marxisme dan Leninisme.

Protes ini berakhir dengan pembuangan kedua tokoh pendiri Uni Sovyet tersebut. Namun, keduanya menolak gaya eksekusi Stalin dan berkata kepadanya:

Baca Juga :  Kongres Bandung Bukan Solusi, Saatnya GMNI Kembali ke Jalan Persatuan

*”Hai Stalin… Kecintaanku kepada Uni Sovyet dan keimananku kepada Marxisme saya buktikan dengan sikap saya mematuhi hukum Uni Sovyet dan konvensi Presidium yang telah menjadi integritas kita. Kami tidak tunduk dan patuh kepadamu, hai Kamerad. Kami tunduk kepada hukum tertinggi Uni Sovyet.”*

Akhirnya, dengan air mata berlinang, Stalin melepas kedua kamerad tersebut berjalan di salju Siberia hingga mereka membeku, menjadi simbol perlawanan ideologis dan martir negara.

Demikianlah gambaran figur pejuang pemikir dalam dunia politik. Hal serupa juga terjadi di negara-bangsa Indonesia, yakni retaknya hubungan Dwitunggal Soekarno-Hatta, yang diakhiri dengan perpisahan. Bung Karno kemudian melanjutkannya seorang diri dalam membawa bangsa dan negara Indonesia ke situasi ideologis-politik yang heroik, diawali dengan Dekrit Presiden 5 Juli 1959.

Inilah demarkasi politik Bung Karno.

Penulis
Djoko Sukmono
Alumni GMNI Jember

Berita Terkait

DPP GMNI Dukung Langkah Ekspansi Danantara Terhadap Perusahaan Ojol, Siap Kawal Pelaksanaan Perpres No 27 Tahun 2026
Kemiskinan Berdasarkan Data dan Angka Beserta Dampak Sosial di Indonesia
Perempuan Inspiratif Dari Situbondo Yang Mengabdi di Dunia Pendidikan dan Sepak Bola Demi Prestasi Generasi Bangsa
Kongres Bandung Bukan Solusi, Saatnya GMNI Kembali ke Jalan Persatuan
Evaluasi Kritis FA GMNI Dalam Menyikapi Kongres GMNI di Bandung Yang Berjalan Selama 12 hari, Deadlock Menjadi Win – Win Solution
History Marhaenisme, Manusia KONKRET Adalah Manusia METHODOLOGIS Yang BERDIKARI
Kehendak Politik Internasional Mempengaruhi Ekonomi dan Sosial Negara Berkembang
Rasio Historis Pada Peradaban Baru

Berita Terkait

Kamis, 11 September 2025 - 23:39 WIB

Kemiskinan Berdasarkan Data dan Angka Beserta Dampak Sosial di Indonesia

Selasa, 12 Agustus 2025 - 17:15 WIB

Perempuan Inspiratif Dari Situbondo Yang Mengabdi di Dunia Pendidikan dan Sepak Bola Demi Prestasi Generasi Bangsa

Jumat, 1 Agustus 2025 - 22:50 WIB

Kongres Bandung Bukan Solusi, Saatnya GMNI Kembali ke Jalan Persatuan

Sabtu, 26 Juli 2025 - 23:28 WIB

Evaluasi Kritis FA GMNI Dalam Menyikapi Kongres GMNI di Bandung Yang Berjalan Selama 12 hari, Deadlock Menjadi Win – Win Solution

Sabtu, 12 Juli 2025 - 23:16 WIB

History Marhaenisme, Manusia KONKRET Adalah Manusia METHODOLOGIS Yang BERDIKARI

Berita Terbaru

Peristiwa

Peristiwa Film Pesta Babi dan Pestanya Para Babi 

Rabu, 13 Mei 2026 - 23:09 WIB